Uang dan Pengalaman

Ketika aku berpikir apakah aku bisa menghasilkan uang? Apakah aku mampu memberikan uang kepada orang tua? Apakah aku bisa menghidupi diriku sendiri? Pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh masa depan, tidak akan ada yang bisa menjawabnya kecuali hanya kisi-kisi usaha yang ku mulai 1 bulan kemarin. Mungkin seseorang diluar sana ada yang menginginkan kehidupanku, memikirkan hal itu membuatku tidak pantas berkeluh. Aku tahu mencari pekerjaan dan bekerja itu tidak mudah, untuk memperoleh uang aku harus berusaha lebih keras. ‘Memulai karir dengan menulis?’ timbangku, meneliti prospek kerja yang tertera di poster. Poster itu menjadi awal aku memutuskan menulis untuk menciptakan karir. Tidak perlu biaya banyak, tidak perlu bepergian dan tidak perlu banyak bertemu orang lain. Pekerjaan yang ideal untukku.
Meskipun rasanya aku sudah beristirahat, ketika pagi hari tiba aku tetap merasa begitu lelah. Lelah yang memanggil diri untuk terbaring lagi sampai bayangan hampir melampaui diri sendiri. Selama 20 tahun menjadi pengangguran, tidak berpenghasilan sepeserpun kecuali bantuan dari pemerintah yang mengalir setiap 6 bulan sekali. Setidaknya hal itu mengobati sedikit rasa bersalah di hati. Menjadi manusia tidak enakan benar-benar hal yang melelahkan, rasanya muak, kenapa kepala sendiri lebih suka memikirkan orang lain, lebih peduli pada kebaikan orang lain, lebih butuh pengakuan orang lain.
“Hp terus, sepagian ini bukannya bantuin beberes malah pegang hp terus!” ucap ibu, berlalu dengan sapu di tangan. Meski pekerjaan menulis ideal, tapi aku harus siap dengan resiko. Salah satunya menghadapi ibu. Beliau tidak akan mengerti pekerjaanku, megang hp seharian berarti pemalas. Dan juga, perjuangan meniti karir tidak akan mudah, sebagai pemula yang terdesak uang, motivasiku kadang naik turun. Dilema besar untukku, aku belum berpengalaman dalam hal apapun tapi aku butuh uang, Apakah aku bisa menghabiskan sedikit waktu untuk menciptakan pengalaman? Tapi ibu tidak mengerti, aku butuh uang segera. Tapi dilain sisi, uang lebih mudah datang kepada orang berpengalaman. Apakah aku bisa hidup seperti itu? Apakah aku bisa menghasilkan uang banyak tanpa berusaha keras? Itu yang diinginkan ibu.
Deadline tugas harus dikumpulkan pagi ini, eng, bukan deadline yang sebenarnya juga sih, hanya berupa target yang sedang aku usahakan. ‘Apakah tulisan ini pantas dibaca orang lain?’ tanyaku, pertanyaan rutin setiap kali hendak meng-upload tulisan. Tidak akan ada seorang profesional, spesialis, expert tanpa seorang pemula dibalik masa lalunya. Itulah quote yang membuatku memutuskan mengunggah tulisan, meskipun harus kepikiran di setiap waktu. Tidak mudah memang tapi lebih tidak mudah jika aku tidak pernah memutuskan untuk memulai.
“Sukma, kamu keren deh, aku juga pengen seperti kamu,” ucap seorang teman, notabenenya seorang yang aktif dalam berbagai kegiatan, pandai berbicara, dan sangat mandiri. Ucapan itu entah membuatku tidak enak atau merasa sedikit berbangga, ada seseorang yang menginginkan rutinitasku yang sangat tidak manusiawi ini. Aku tidak mengerti, kenapa dewasa ini aku merasa tiba-tiba disetel menjadi seorang pendengar saja. Tidak ada kegiatan, tidak punya pengalaman dan tidak punya teman yang banyak. Kehidupan yang dicemooh oleh saudaraku dan banyak dipertanyakan oleh temanku. Aku rasa apakah seharusnya aku tidak seperti itu? Apakah hidup harus pandai berbicara, memiliki banyak teman, atau mengikuti banyak kegiatan? Aku hanya berusaha hidup dengan nyaman, walaupun pada akhirnya kehidupan yang kupilih diusik rasa muak, merasa tertinggal dan lainnya.

