Sikap Demokrasi di Kehidupan Keseharian

Demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang mengijinkan dan memberikan hak, kebebasan kepada warga negaranya untuk berpendapat serta turut serta dalam pengambilan keputusan di pemerintahan. Inti dari demokrasi merupakan kebebasan berpendapat. Kita biasanya berpikir demokrasi hanya sebatas suatu bentuk pemerintahan atau sistem politik, namun demokrasi juga dapat dijadikan sebagai sikap/gaya hidup sehari hari. Berikut ini beberapa contoh penerapan sikap demokrasi di kehidupan keseharian :
1. Bersikap Egaliter
Egaliter atau egalitarianisme adalah paham bahwa semua manusia harus diperlakukan sama. Persamaan manusia merupakan landasan dan syarat terbentuknya demokrasi yang sejati. Karena, demokrasi merupakan sistem terbuka untuk semua individu dan kelompok untuk berpartisipasi, berkontribusi, dan menyuarakan pendapat. Sehingga, persamaan dalam memandang manusia akan menghasilkan ketulusan dalam mendengarkan pendapat satu sama lain yang menghasilkan jawaban dan kesepakatan yang terbaik bagi semua pihak.
Contoh penerapan sikap persamaan manusia dalam kehidupan sehari hari adalah tidak memilih milih teman. Sering kali, saat kita bertemu dengan orang baru, muncul penilaian negatif di pikiran kita baik secara langsung maupun tidak langsung. Biasanya itu disebabkan oleh faktor fisik, seperti penampilan dan warna kulit. Dan faktor non fisik, seperti suku, ras, gaya bahasa, latar belakang, dll. Menurutku, mulai sekarang kita harus berusaha untuk menghapus cara pandang seperti itu dan mulai mempratikkan cara pandang egaliter yaitu bahwa semua manusia sama. Dari sikap dan cara pandang ini, akan lahir sikap optimisme.
Yakni sikap optimis dan positif bahwa semua manusia sama saat bertemu dan berkenalan dengan orang baru. Kita tidak boleh menilai orang lain itu baik atau jahat sebelum kita mengenalnya lebih dekat. Menurut Islam, semua manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan bersih dan manusia itu memiliki sifat secara alami/natural merindukan dan mencari yang benar dan baik. Sehingga, sikap kita saat bertemu dengan orang baru adalah bahwa semua orang adalah orang baik. Sikap ini akan melahirkan lagi sikap sikap positif yang lain dalam kehidupan sosial kita.
2. Bertanggung Jawab dengan yang Kita Ucapkan
Saat membicarakan sikap demokrasi di Indonesia pasti juga membicarakan mengenai kebebasan berbicara dan mengutarakan pendapat. Itu merupakan hal yang tidak salah, karena demokrasi menuntut partisipasi semua pihak dan pendapat juga merupakan salah satu bentuk partisipasi dan kontribusi. Namun, satu hal yang sering dilupakan dalan menyuarakan kebebasan berbicara adalah terdapat juga tanggung jawab pribadi dengan apa yang kita bicarakan. Karena, demokrasi dan kebebasan berbicara bukan berarti kebebasan tak terbatas. Menurut Bung Hatta, kebebsan yang tak terbatas justru akan menimbulkan chaos atau kekacauan.
Cukup sering kutemui dari komentar komentar di media sosial, banyak orang mengutarakan pendapat dengan bahasa dan tutur kata yang kurang baik, sehingga lebih terdengar seperti hujatan dan makian daripada pendapat dan saran. Saat ditegur, mereka akan bersembunyi dibalik kalimat “kita ini negara demokrasi dan kita bebas untuk berbicara”. Padahal sesuai dengan UU No. 39 Tahun 199 Pasal 23 ayat (2) telah disebutkan bahwa pendapat seseorang harusnya memperhatikan nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan bangsa. Menurutku, demokrasi yang sejati adalah kebebasan berpendapat dan berbicara wajib disertai dengan tanggung jawab pribadi yang besar dengan apa yang disampaikan.
Kita seharusnya bisa menyampaikan saran dan pendapat tanpa perlu menyakiti perasaan orang yang kita tuju dengan bahasa dan pilihan kata yang kasar dan kurang enak didengar. Karena, saran bagiku harus bersifat konstruktif/membangun bukan justru destruktif/menghancurkan. Jika saran yang diberikan enak dibaca dan menggunakan bahasa yang sopan dan baik pasti si penerima saran akan senang dan berterimakasih karena sudah diberi tahu titik kesalahnnya sehingga ia bisa memperbaiki diri. Namun, jika sarannya menggunakan bahasa yang kurang menyenangkan, sang penerima justru akan bersedih dan merasa kecil hati dan itu telah merusak esensi dari saran itu sendiri, yaitu membangun bukan mengghancurkan.
3. Rendah Hati dan Terbuka
Saat membicarakan sikap demokrasi di Indonesia pasti juga membicarakan mengenai kebebasan berbicara dan mengutarakan pendapat. Itu merupakan hal yang tidak salah, karena demokrasi menuntut partisipasi semua pihak dan pendapat juga merupakan salah satu bentuk partisipasi dan kontribusi. Namun, satu hal yang sering dilupakan dalan menyuarakan kebebasan berbicara adalah terdapat juga tanggung jawab pribadi dengan apa yang kita bicarakan. Karena, demokrasi dan kebebasan berbicara bukan berarti kebebasan tak terbatas. Menurut Bung Hatta, kebebsan yang tak terbatas justru akan menimbulkan chaos atau kekacauan.
Cukup sering kutemui dari komentar komentar di media sosial, banyak orang mengutarakan pendapat dengan bahasa dan tutur kata yang kurang baik, sehingga lebih terdengar seperti hujatan dan makian daripada pendapat dan saran. Saat ditegur, mereka akan bersembunyi dibalik kalimat “kita ini negara demokrasi dan kita bebas untuk berbicara”. Padahal sesuai dengan UU No. 39 Tahun 199 Pasal 23 ayat (2) telah disebutkan bahwa pendapat seseorang harusnya memperhatikan nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan bangsa. Menurutku, demokrasi yang sejati adalah kebebasan berpendapat dan berbicara wajib disertai dengan tanggung jawab pribadi yang besar dengan apa yang disampaikan.
Kita seharusnya bisa menyampaikan saran dan pendapat tanpa perlu menyakiti perasaan orang yang kita tuju dengan bahasa dan pilihan kata yang kasar dan kurang enak didengar. Karena, saran bagiku harus bersifat konstruktif/membangun bukan justru destruktif/menghancurkan. Jika saran yang diberikan enak dibaca dan menggunakan bahasa yang sopan dan baik pasti si penerima saran akan senang dan berterimakasih karena sudah diberi tahu titik kesalahnnya sehingga ia bisa memperbaiki diri. Namun, jika sarannya menggunakan bahasa yang kurang menyenangkan, sang penerima justru akan bersedih dan merasa kecil hati dan itu telah merusak esensi dari saran itu sendiri, yaitu membangun bukan mengghancurkan.

