Rumus Kimia dan Nama-nama Senyawa

Perhatikanlah proses pembakaran kayu sebagai contoh reaksi kimia, di mana kayu yang terbakar mengalami perubahan fisik dan menghasilkan abu, gas CO2, dan uap air. Hasil pembakaran tersebut tidak dapat dikembalikan ke bentuk asalnya sebagai kayu. Menurut informasi dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, simbol yang digunakan untuk mengidentifikasi suatu molekul dikenal sebagai rumus kimia, yang erat kaitannya dengan tatanama senyawa. Rumus kimia menyajikan informasi tentang jenis dan jumlah atom secara relatif dalam suatu zat, dengan angka indeks yang menyatakan jumlah atom unsur dalam rumus kimia. Rumus molekul menggambarkan jumlah atom dari unsur yang membentuk satu molekul senyawa, seperti contohnya rumus molekul air (H2O), yang menunjukkan adanya dua atom hidrogen dan satu atom oksigen dalam satu molekul air. Sementara itu, rumus empiris menyatakan perbandingan terkecil atom-atom unsur dalam suatu senyawa. Rumus kimia senyawa ion, seperti natrium klorida (NaCl), adalah contoh rumus empiris dengan perbandingan 1:1 antara ion Na+ dan ion Cl-.
Beberapa unsur membentuk molekul-molekul, seperti gas oksigen (O2), di mana rumus kimianya mencerminkan bahwa molekul oksigen terdiri dari dua atom oksigen. Meskipun banyak senyawa memiliki rumus molekul yang sama dengan rumus empirisnya, senyawa molekul memiliki rumus molekul tambahan, sedangkan senyawa ion hanya memiliki rumus empiris. Oleh karena itu, setiap senyawa dengan rumus molekul pasti memiliki rumus empiris, tetapi yang memiliki rumus empiris belum tentu memiliki rumus molekul. Adapun dalam penamaan ilmiah suatu unsur, asal-usulnya dapat bervariasi, mungkin berdasarkan warna unsur, salah satu sifat khasnya, atau nama seorang ilmuwan yang berjasa. Untuk menghindari kontroversi dalam penamaan, Persatuan Kimia Murni dan Kimia Terapan (IUPAC) menetapkan aturan penamaan dan lambang untuk unsur-unsur baru. Aturan ini mencakup penggunaan akhiran “ium” untuk nama unsur, baik itu logam atau nonlogam, yang didasarkan pada nomor atom unsur dengan menggunakan serangkaian akar kata. Lambang unsur, yang merupakan tanda atom, terdiri dari tiga huruf yang merupakan rangkaian huruf awal dari akar kata yang mencerminkan nomor atom unsur tersebut.
Meskipun demikian, aturan penamaan IUPAC jarang digunakan, dan ada beberapa sistem penamaan alternatif yang didasarkan pada rumus kimia senyawa. Salah satunya adalah tatanama senyawa biner, di mana senyawa ini terbentuk dari dua jenis unsur yang berbeda, biasanya unsur logam sebagai kation (ion positif) dan unsur nonlogam sebagai anion (ion negatif). Inilah cirinya: Unsur yang berada di posisi pertama dinamai sesuai dengan nama unsur tersebut, sementara unsur yang berada di posisi kedua dinamai dengan menambahkan akhiran -ida ke nama unsurnya. Jumlah atom unsur diidentifikasi menggunakan angka Latin bila perlu. Contohnya: NO (nitrogen monoksida), NO2 (nitrogen dioksida), AlCl (alumunium klorida). Senyawa biner yang terdiri dari dua nonlogam dianggap sebagai molekul, bukan ion-ion. Penamaannya mengikuti pola dengan menggunakan awalan angka Yunani yang menunjukkan jumlah atom nonlogam, diikuti dengan jumlah atom nonlogam diakhiri dengan akhiran -ida. Awalan angka Yunani ini meliputi Mono (1), Di (2), Tri (3), Tetra (4), Penta (5), Heksa (6), Hepta (7), Okta (8), Nona (9), dan Deka (10). Contohnya: CO (Karbon monoksida), N2O5 (Dioksida pentaoksida), PCl5 (Fosfor pentaklorida).

