Krisis Minat Baca di Indonesia

Persoalan Mengenai krisis Minat baca di indonesia memang Sudah tidak asing lagi terdengar. karena Semakin Munculnya teknologi yang semakin canggih dan maju membuat Para Pelajar Fokus terhadap Gadgetnya dan lebih Sering Memegang gadget dibanding buku. Krisis minat baca sangat erat kaitannya dengan kalangan Pelajar. Sebab didalam dunia Pendidikan Pelajar harus banyak Membaca karena buku adalah Jandela dunia dan Sumber Ilmu Pengetahuan.
Dikutip dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK), bahwasannya sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni sangat dibutuhkan jelang Indonesia Emas tahun 2045. Tiga aspek yang dipersiapkan untuk SDM mumpuni adalah literasi dasar, karakter, dan kompetensi. Jika literasi dasar saja rendah, bisa dibayangkan, bukan, akan seperti apa Indonesia saat golden time nanti?
SEBELUM KE SOLUSI, MARI KITA KETAHUI PENYEBABNYA…
Perlu mengetahui penyebab minim literasi ini untuk mengerti dan menjadi siaga, Kita bisa mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Adapun penyebab krisis minimnya literasi di Indonesia, yakni;
- Belum ada kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak dini
Dalam kasus ini, kebiasaan orang tua sangat memengaruhi pola anak karena anak sering kali pandai meniru ketimbang mendengar. Jadi, diharapkan orang tua bisa menanamkan kebiasaan membaca buku sejak dini
- Akses ke fasilitas belum merata
Sudah tidak heran jika hal ini masih diperbincangkan dan terus dicari solusinya. Melihat masih banyak anak yang putus sekolah dan ribetnya birokrasi pendidikan hingga menyebabkan kualitas literasi rendah.
- Masih kurangnya produksi buku di Indonesia
Karena adanya pajak pada produsen buku yang mendapatkan royalti rendah, menyebabkan kurangnya motivasi untuk menerbitkan buku yang berkualitas.
Berdasarkan paparan di atas, tentu Kita harus memperbaiki atau setidaknya mencegah minimnya minat baca ini. Berikut beberapa solusi yang disarankan;
- Jadikan ‘membaca’ sebagai kegemaran
Di sini, peran keluarga sangat dibutuhkan karena anak-anak akan lebih menghabiskan waktu di rumah. Orang tua bisa membiasakan anak membaca buku dongeng, buku yang bergambar, dan lain sebagainya. Dengan dijadikan kegemaran, anak-anak akan terlatih dan akhirnya akan menyukai kegiatan membaca. Ketika kegiatan sudah menjadi kegemaran, maka untuk melakukannya akan menyenangkan.
- Terapkan ‘saring’ sebelum ‘sharing’
Hal ini berkaitan dengan bermain sosial media. Sudah tidak heran jika bermain sosial media akan membuat Kita terlalu banyak mendapat informasi dan seakan-akan membuat Kita untuk tidak sabar menyebarkannya, apalagi berita yang sedang marak dibicarakan. Padahal, belum tentu berita yang Kita sebarkan terbukti adanya. Oleh karena itu, terapkan saring sebelum. Bagaimana caranya menerapkan saring sebelum sharing? Jawabannya sederhana, yaitu dengan membaca.
- Mempercantik perpustakaan
Hal yang cantik akan menimbulkan daya tarik. Ungkapan tersebut tidak hanya berlaku pada pemujaan visual seseorang, melainkan juga berlaku pada tempat. Karena tempat yang cantik akan membuat Kita betah berlama-lama di dalamnya. Sama hal nya dengan perpustakan yang cantik, orang-orang tidak akan bosan jika berdiam lama melakukan kegiatan membaca. Mungkin tiga hal yang di atas merupakan hal yang sederhana dan terlihat biasa saja untuk dilakukan, tetapi bila Kita menerapkannya dengan konsisten hasil yang didapatkan tidak main-main. Calon penerus bangsa akan lebih siap pasang badan dan menciptakan bangsa yang maju.

