Kesiapan SDM Indonesia dalam Menghadapi Era Society 5.0

Secara teoritikal, era Society 5.0 tidak berbeda jauh dengan era Industri 4.0. Penggunaan AI, IoT, Big data, dan lain-lainnya tetap dipertahankan, namun manusia ditempatkan sebagai komponen utama dalam menjalankan suatu sistem sebagai upaya mempertimbangkan aspek humaniora dalam menyelesaikan isu-isu sosial dan keberlanjutan pembangunan suatu negara. “Era smart society 5.0 adalah konsep kesiapan SDM pembangunan masyarakat yang mendorong masyarakat menyeimbangkan antara kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial menggunakan sistem yang mengintegrasikan dunia maya dan fisik” kata Jerry Sambuaga selaku Wakil Menteri Perdagangan. Data akan menjadi suatu objek yang menjalankan sistem dan secara tidak langsung menjadi bagian dari manusia itu sendiri. Negara Jepang merupakan salah satu negara yang sudah memasuki era Society 5.0 pada 2019 silam, lalu bagaimana dengan Indonesia? Apakah Indonesia siap memasuki era Society 5.0?
Perekonomian dan pemerataan infrastruktur merupakan salah satu acuan penting yang perlu diperhatikan apabila melihat kesiapan suatu negara dalam memasuki era 5.0. Namun, sumber daya manusia Indonesia yang mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi menjadi salah satu faktor krusial dan modal dasar yang menentukan keberhasilan Indonesia menghadapi revolusi industri 5.0. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat penggunaan internet di Indonesia telah mencapai 78,19% pada 2023. Tidak hanya mampu menggunakan teknologi, manusia Indonesia juga harus mampu mengendalikan dan mengaplikasikan teknologi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk membangun talenta digital melalui pembangunan berbagai infrastruktur seperti internet 5G dan kecepatan search engine, menyediakan fasilitas pembiayaan untuk membantu start-up perusahaan bidang teknologi digital, dan lain-lainnya. “Kuncinya adalah tetap kita harus membangun talenta digital dan meningkatkan literasi digital kepada masyarakat umum,” kata Menko Airlangga.
Generasi pemuda yang berperan sebagai Agent of Change turut mendukung kesiapan Indonesia dalam menghadapi era Society 5.0 dengan cara mengembangkan potensi yang terpendam dalam diri masing-masing dalam upaya menciptakan inovasi dan meningkatkan daya saing yang semakin ketat. Dibutuhkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif yang out of the box, jiwa leadership, literasi digital, jiwa entrepreneurship, problem solving, dan team-working. Akan tetapi, pembangunan fasilitas dan infrastruktur seperti internet 5G dan lain-lainnya belum menjangkau keseluruhan wilayah Indonesia dalam persiapan menghadapi era Society 5.0. Pendidikan yang merata, berkualitas, dan memanfaatkan teknologi akan menjadi jantung kemajuan suatu negara. Namun, apakah pendidikan kita siap dalam menghadapi revolusi industri 5.0?
Pemerintah harus bisa menyelesaikan permasalahan pemerataan pembangunan dan perluasan koneksi internet ke seluruh wilayah Indonesia, tidak hanya terpusat di pulau Jawa saja. Hal ini dilakukan agar akses teknologi dapat digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Pihak pengajar juga harus memiliki keterampilan dibidang digital, berpikir kreatif dan kritis, dan melek teknologi. Lembaga pendidikan sudah mulai menerapkan teknologi sebagai alat kegiatan belajar-mengajar. Hal ini diterapkan oleh berbagai perguruan tinggi dengan memadukan pembelajaran dengan metode luring dan daring via zoom, google meet, dan aplikasi-aplikasi lainnya. Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristek Dikti), Muhammad Nasir, menegaskan bahwa terdapat 4 hal yang menjadi urgensi perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berkompeten. Pertama, teknologi informasi dapat diaplikasikan dalam menentukan pilihan program studi agar sesuai dengan kemampuan dan keinginan mahasiswa.
Kedua, pemanfaatan Internet of Things (IoT) dalam upaya mempermudah komunikasi antara dosen dan mahasiswa agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Ketiga, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) seperti Siri, Bixby, Microsoft Cortana dan Google Assistant memungkinkan mahasiswa berinteraksi dengan materi pembelajaran. Keempat, augmented reality (AR) sebagai alat bantu pembelajaran yang mampu menggabungkan objek virtual dan nyata agar lebih memahami materi yang diberikan. Pemanfaatan teknologi-teknologi diatas menunjukkan bahwa Indonesia tengah melakukan persiapan untuk menghadapi revolusi industri 5.0. Indonesia masih membutuhkan waktu untuk memeratakan pendidikan dan infrastruktur berbasis teknologi yang menjangkau hingga ke pelosok daerah.

