Kaum Pribumi Abad Ke 18-19

Kaum pribumi semuanya disebut sebagai orang Jawa, baik orang dari kerajaan banten maupun wilayah lain dari Jawa. Untuk penduduk yang tinggal di Pulau Madura mereka disebut sebagai orang Madura. Orang Jawa memiliki ukuran tubuh rata-rata dan pada umumnya memiliki proporsi yang baik. Memiliki kulit berwarna cokelat terang, hidung pesek, dahi yang lebar, serta rambut yang berwarna hitam. Rambut mereka selalu halus serta bersinar karena memakai minyak kelapa.
Keris merupakan senjata utama orang Jawa. Mereka selalu membawanya kemanapun mereka pergi. Gagang keris terbuat dari bahan yang berbeda-beda, yang nilainya bisa kurang berharga atau lebih berharga, tergantung pada status sosial atau kekayaan pemakai atau pemiliknya. Seringkali keris diberi racun dan dapat mengakibatkan kematian dengan cepat. Pakaian yang mereka pakai terdiri atas selembar kain katun yang dililitkan pada pinggang mereka, setelah itu ujungnya ditarik di antara kedua kaki, lalu diikat di bagian punggung. Selain di bagian tersebut, tubuh mereka telanjang atau terbuka, kecuali jika mereka menggunakan tudung kepala kecil. Ini merupakan pakaian orang biasa.
Orang yang lebih berada atau kaya memakai jubah moor yang bahannya dari kain katun bermotif atau bahan-bahan yang lainnya dan pada umumnya memakai turban, bukan memakai tudung kepala. Mereka hanya memelihara atau menjaga rambut yang berada di kepala. Mereka mencukur dengan hati-hati dan waspada terhadap rambut yang ada di bagian lainnya. Baju perempuan sedikit lebih baik dibandingkan dengan laki-laki. Terdiri dari sepotong kain katun yang disebut sarung. Sarung dililitkan pada tubuh guna menutupi bagian dada dan sebagian punggung tetap terbuka. Rambut di kepala yang mereka biarkan panjang digulung serta dibentuk sanggul membulat, setelah itu diperkuat menggunakan tusuk sanggul panjang. Tusuk sanggul bisa terbuat dari berbagai bahan, seperti cangkang penyu, kayu, emas, atau perak, tergantung kekayaan atau status sosial wanita tersebut. Perhiasan rambut tersebut disebut konde. Perhiasan ini kerap kali diperindah menggunakan berbagai bunga.
Para wanita dan pria sangat suka mandi, apalagi di pagi hari. Orang Jawa merupakan kaum yang poligamis, mereka menikahi wanita sebanyak yang bisa mereka pelihara, serta mengambil budak wanita mereka untuk dijadikan selir. Hal tersebut tentu tidak terjadi pada orang-orang biasa, yang mana harus puas hanya dengan satu istri, dikarenakan mereka tidak mampu memelihara lebih banyak wanita. Para wanita pribumi sangat menyukai orang-orang kulit putih. Mereka juga sangat pencemburu, serta tahu bagaimana caranya membuat kekasih mereka (orang Eropa) yang terbukti selingkuh benar-benar menyesali perbuatannya, dengan cara memberi obat-obatan tertentu dan membuat kekasih mereka (orang Eropa) tidak berani untuk mengulanginya lagi.
Untuk tempat tinggal kaum pribumi, tampaknya lebih tepat disebut sebagai gubuk daripada rumah. Tempat tinggal mereka semuanya terbuat dari anyaman bambu, kemudian diplester menggunakan tanah liat, dan ditutupi menggunakan daun kelapa atau atap. Jalan masuknya rendah serta tidak mempunyai daun pintu atau penutup lainnya. Tempat tinggal mereka biasanya hanya terdiri dari satu ruangan, tempat anak, istri, suami, kadang-kadang hewan peliharaan mereka, tinggal bersama-sama. Mereka biasanya memilih tempat teduh untuk mendirikan tempat tinggal mereka atau menanam pohon di sekitarnya. Mereka tidak mempunyai kursi dan meja, namun duduk bersila di atas tikar atau di lantai tanah. Mereka juga tidak menggunakan sendok, garpu, atau pisau, tetapi mereka makan menggunakan jari mereka.
Makanan utama kaum pribumi adalah nasi rebus dengan sedikit ikan. Mereka tidak menolak arak saat mereka bisa memperolehnya. Mereka selalu mengunyah pinang atau sirih, juga semacam tembakau. Mereka merokok tembakau Jawa lewat pipa yang dibuat dari buluh, kadang-kadang mereka juga memasukkan opium ke pipa mereka dan juga tembakau untuk membuat senang jiwa mereka. penggunaan yang terus-menerus bisa mengakibatkan mereka mabuk. Mereka yang berlebihan menggunakannya akan duduk bagaikan patung, tidak dapat berkata-kata dan pandangan mata kosong. Sabung ayam adalah hiburan favorit mereka. Walaupun tidak pernah jatuh miskin, akan tetapi mereka rela menjual segala harta benda mereka, dibandingkan harus menjual ayam aduan mereka.

