Indonesiaku Kau Begitu Mahal

Tema yang akan diangkat kali ini sangat menggugah, menampilkan berbagai cerita sederhana dari berbagai sudut pandang. Salah satu ceritanya melibatkan si Ica, yang berbagi pengalaman masa kecilnya. Ia memutar kembali waktu untuk mengingat zaman di mana teknologi belum mendominasi, tanpa adanya gadget seperti sekarang. Ica tinggal di kepulauan yang pada masa itu masih hidup layaknya suku pedalaman. Listrik hanya menyala pada malam hari hingga pukul 10-12 malam, dan baru menyala lagi sekitar azan subuh. Keadaan ini membuatnya membayangkan bagaimana rasanya belajar saat listrik mati, memunculkan berbagai pikiran di benaknya. Pada masa itu, Ica hanya bisa mendengar siaran radio tempo dulu, dan televisi yang hidup dengan menggunakan pasangan aki, berbeda dengan zaman sekarang yang memiliki televisi kabel. Lampu yang digunakan pun masih menggunakan lampu petromak yang diisi dengan gas, menjadi sumber cahaya saat malam tiba, mirip dengan kehidupan suku pedalaman. Budaya Indonesia yang masih kental terasa, tatakrama anak-anak pada masa tempo dulu sangat berbeda dengan zaman sekarang. Terutama dalam hal jenis makanan, jika dibandingkan dengan kehidupan Ica, misalnya bagi mereka yang tinggal di desa dekat pegunungan dan pedesaan. Pola makan dan tradisinya sangat berbeda, lebih mengandalkan sayur-sayuran dan hasil kebun sekitar. Namun, kehidupan Ica yang dikelilingi oleh laut menciptakan pola dan tradisi makanan yang berbeda, lebih identik dengan ikan segar dan sambal, sementara tahu dan tempe sulit didapatkan.
Berbeda lagi dengan suku pedalaman, pola konsumsi makanan mereka jelas berbeda, sebagian besar melibatkan berburu di hutan dan ketergantungan pada sumber daya alam. Indonesia yang kaya akan suku dan budaya menunjukkan tradisi yang beragam di setiap daerah, dengan bentuk uraian dan penjabaran yang panjang jika diurai satu-satu. Kehebatan negeri Indonesia termanifestasi dalam segala sisi dengan keindahan alamnya yang memiliki nilai eksotis serta ragam eksotisme lainnya. Ceritanya pun tetap segar dan tidak tergerus oleh waktu. Indonesia, engkau begitu mahal dan kaya, membuatnya layak menjadi rebutan negara maju sebagai objek jajahan, bahkan diinginkan untuk dihancurkan dan ditindas. Namun, sekarang Indonesia sudah dikenal dengan kekayaan alamnya yang memukau, serta aspek kekayaan lainnya yang tak perlu disebutkan. Pengalaman si Ica dan berbagai cerita lainnya yang bersatu dengan hangatnya alam, menjadikan kita patut berbangga bahwa Indonesiaku layak dijaga dan dipertahankan. Para penduduk masih menginginkan negeri ini, tidak dengan cara kekerasan seperti zaman penjajahan, melainkan dengan cara yang lembut, indah, dan cerdas sesuai dengan perkembangan zaman. Untuk para penjaga di setiap sudut kesatuan, tetaplah waspada.
Jangan pernah menginginkan diri untuk dijajah sebagaimana keelokan yang mungkin ditawarkan. Tetaplah berdiri tegap bersama-sama dengan kekuatan yang ada. Jika pun kau merasa tidak kuat, ajarkan generasi berikutnya tentang cinta kesatuan, cinta pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta cinta pada produk-produk Indonesia. Didiklah mereka menjadi individu yang hebat agar mampu mengelola negara berkembang ini. Jika bukan kita yang berjuang untuk masa depan, lantas siapa lagi? Mereka masih polos dan memerlukan petuah khusus dari generasi yang lebih tua untuk memahami keragaman negara. Tanpa petuah ini, mereka bisa tetap mengalami penindasan, yang sungguh disayangkan karena kita akan semakin tua dan meninggal. Jika para penerus tetap asyik dengan kesenangan mereka sendiri, Indonesiaku tercinta ini akan menjadi seperti apa?
Sebagai contoh kecil, anak-anak di pelosok negeri sekarang lebih cenderung mencintai game online. Sayangnya, bukan sebagai pencetus penemu teknologi permainan online yang edukatif, tetapi mereka telah dijajah menjadi pengguna setia. Apakah mereka menyadari bahwa otak dan akal sehat mereka terkuras oleh permainan yang sangat memeras otak? Sebaliknya, jika mereka ditanya tentang nama-nama tokoh pejuang, jawabannya mungkin hambar, tanpa beban, bahkan mungkin tidak tahu sama sekali. Bahkan, sebagian dari mereka mungkin menganggap artis terkenal sebagai pahlawan, yang tentu saja terdengar lucu. Mari bersatu, bersama-sama tanamkan rasa cinta dan kesatuan. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. NKRI harga mati.

