Wamil Darurat, Kalashnikov dan Medan Perang

Jauh di Ukraina, para mahasiswa tak hanya ikut orientasi kampus, tapi juga wamil (wajib militer) yang trainingnya hanya tiga hari dan langsung di tempatkan di garis depan front medan perang. Konflik dengan Rusia memaksa mereka harus siap tempur.Begitu daruratnya situasi perang, digambarkan dalam sebuah reportase dari BBC, beberapa dari mahasiswa rekrutan mengenakan bantalan lutut yang terlihat terlalu kecil, seolah-olah mereka datang membawa skateboard pada hari ulang tahunnya yang ke-12. Beberapa lagi datang membawa kantong tidur.
Salah satunya membawa matras yoga. Ketika menunggu di luar bus yang akan mengantar ke tempat latihan, mereka tampak seperti rombongan ke festival musik, kalau saja mereka tidak membawa senjata. Masing-masing orang diberi tanggung jawab memegang sepucuk senapan serbu Kalashnikov. Seorang mahasiswa bernama Dmytro, memutuskan bergabung dengan personil bagian teritori, meskipn orang tuanya menyarankannya agar menjadi bagian dari sukarelawan perang saja. Dmytro bangga menjadi bagian dari bela negara.
Ada yang menarik dari sepenggal kisah perang ini. Konon semangat mereka,”merdeka atau mati” demi “Ukraina Merdeka”, melalui media sosial disemangati oleh kisah peristiwa Sumpah Pemuda. Seperti dituturkan anak-anak muda Ukraina lulusan jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dari universitas di Kyiv. Yuliia Mykulych, salah seorang mahasiswi doktoral bahasa, sastra, dan terjemahan bahasa Indonesia dari Universitas Nasional Taras Svechkensco di Kyiv menyatakan, “Seperti bangsa Indonesia yang berjuang untuk kemerdekaan pada 1945, sekarang seluruh orang Ukraina berjuang untuk kemerdekaan. Merdeka atau mati tidak ada jalan lain.
“Saya sering ingat Sumpah Pemuda pada tahun 1928, satu bangsa Indonesia, satu bahasa. Sama dengan yang sekarang terjadi di sini. Semua pemuda, orang seumur saya, sukarela untuk berjuang atas perdamaian di Ukraina. Saya sangat percaya, kita akan menang,” cetusnya penuh semangat.
Wamil Dan Darurat Perang
Wajib militer atau sering kali disingkat sebagai wamil, sebenarnya diarahkan untuk meningkatkan ketangguhan dan kedisiplinan orang itu sendiri. Kewajiban ini ditujukan bagi warga negara berusia muda terutama pria, biasanya antara 18 – 27 tahun untuk menyandang senjata dan menjadi anggota tentara dan mengikuti pendidikan militer, sebagai bagian dari pertahanan dan bela diri.
Hingga saat ini terdapat 7 negara di Asia yang mewajibkan warga negaranya melakukan wamil; Korea Selatan, Korea Utara, China, Thailand, Taiwan, Singapura dan Myanmar. Jika di kampus kita terdapat mahasiswa pertukaran dari 7 negara di atas, menjadi pemandangan yang tidak asing jika mereka secara disiplin melakukan aktifitas seperti berolah raga biasa, mengenakan seragam, tapi mereka terlihat begitu serius.
Tidak lain karena kebiasaan mereka selama mereka mengikuti wamil di negaranya. Bisa jadi kewajiban itu tetap harus dijalankan, sekalipun mereka berada di negara orang dan sedang menjalankan tugas belajar. Disiplin itu tetap menjadi keharusan yang wajib dilakukan. Saya sudah biasa melihat aktifitas rutin itu dilakukan para mahasiswa yang berasal dari salah satu dari 7 negara yang mewajibkan wamil tersebut.
Secara rutin setiap pagi, secara teratur dalam formasi barisan melakukan jogging, memusatkan latihan di lapangan kampus. Pada umumnya mereka bahkan berseragam warna hitam. Aktifitas mereka sedikit berbeda dengan kita yang berolahraga harian. Mereka mengikuti instruksi dan aturan disiplin yang keras, sehingga terlihat seperti aktifitas ala militer.

