Teknologi Ekonomi Hijau (Green Fintech)

Teknologi telah membawa seluruh dampak kehidupan termasuk di bidang ekonomi. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana penerapan ekonomi hijau tersebut bisa berjalan berkelanjutan dan tidak berdampak lingkungan. Blakstad dan Allen (2018) menyebutkan bagaimana perilaku konsumen dan standar pelayanan dalam keuangan harus diperhatikan dalam ekosistem keuangan baru.
Persetujuan Paris 2015 antara pemimpin global telah mengubah agenda keberlanjutan antara ekonomi yang diperlukan untuk menurunkan global warning, selain itu UNEP dalam tulisan dan laporan mereka telah merekomendasikan bagaimana pengembangan teknologi keuangan untuk meningkatkan keuangan inklusif pada 2030. Terdapat beberapa peluang dalam keberlangsungan fintech yakni :
- Penelusuran supply chain dan kepercayaan makanan untuk memastikan sustainable suppy. Korupsi dalam supply chain adalah kebiasaan dan transparansi dalam setiap produksi dan supply chain menjadi tantangan tersendiri;
- Sistem reputasi untuk membangun kepercayaan, ketika masyarakat bisa percaya satu sama lain, mereka bisa bekerja sala untuk memastikan setiap keputusan. Dalam konteks ini, antar masyarakat kurang saling percaya satu sama lain sehingga menghalangi kerja sama dalam meningkatkan fintech sustainable;
- Aset kerja sama, fintech bisa membantu masyarakat untuk meningkatkan sumber daya seperti perlengkapan agrikultus atau sumber daya energi. Masyarkat bisa berbagi sumber daya untuk produsen dan konsumen;
- Meningkatkan aplikasi identitas melalui kepercayaan dan kerja sama terutama dalam pembangunan ekonomi, orang sering lemah dalam mendokumentasikan bagaimana untuk memperoleh sumber daya. Fintech bisa menjadi sumber interaksi satu sama lain untuk membangun identitas;
- Prediksi dan manajemen bencana, fintech membantu perencanaan masyarakat ketika terdapat perencanaan dan manajemen bencana yang handal;
- Kepercayaan dalam berinvestasi dan pengembangan sistem tracking pinjaman, teknologi seperti blockchain dan criptocurency bisa lebi diimplementasi untuk mendukung sumberdaya berkelanjutan, memastikan investasi lebih handal sehingga meningkatkan investasi.
Dalam meningkatkan green fintech, terdapat 2 solusi yakni:
1. Solusi top-down, banyak agenda keberlanjutan menginjeksi dana yang diperlilah dari investor, pendonor, atau pemerintah untuk berprogres. Terdapat investasi secara global dan telah memimpin projek keberlangsungan agar lebih “greening”. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana meniginisiasi projek “green” tersebut, meningkatkan transparansi dan risiko korupsi. Solusi yang bisa diterapkan seperti penggunaan teknologi Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), dan blockchain uang menurunkan risiko, meningkatkan audit, menganalisis data agar lebih transparan. Contohnya adalah bagaimana blockchain bekerja untuk mengurangi sisiko korupsi dan volati;lotas dalam sebuah donasi dan perkembangan investasi;
2. Bottom up, Perumbuhan jangka Panjang bisa didukung oleh solusi masyarakat dalam memimpin diri sendiri agar bisa lebih belajar bagaimana pengembangan teknologi termasuk belajar bagaimana penggunaan blockchain dalam ekonomi. Blockchain bisa mendukung integritas dan supply melalui:
- Traceability, tranmsaksi dan kontrak eksekusi menawarkan audit untuk setiap perubahan aset Bersama dengan keterbatasan dan risiko yang akan diambil;
- Provenance, bloickchain merekam demonstrasi sirklus sebuah aset yang bisa menjadi sebuah representasi digital aset fisik, pelayanan, atau persetujuan, termasuk relevansi dan keberlangsungan lokasi sekitar;
- Disintermediation, blockchain mengatur bagaimana dan aspek logic apa saja yang diperlukan dalam setiap transaksi, termasuk aturan bisnis kompleks, dan diapply permintaan dan penawaran sirklus ekonomi;
Transparansi, bisa didapatkan melalui persetujuan yang jelas, audit, dan kebijakanyang tegas di setiap transaksi. Pada akhirnya, green fintech sangat diperlukan untuk keberlangsungan pertumbuhan ekonomi berwawasan lingkungan.

