Sejarah Diplomasi Indonesia pada Periode Parlementer

Konferensi Meja bundar (KMB) merupakan sejarah penting bagi Indonesia, selain Belanda. Konferensi Meja bulat (KMB) diselenggarakan di Den Haag, Belanda di tanggal 23 Agustus sampai 2 November 1949. Tujuan KMB adalah buat menuntaskan permasalahan yg telah lama terjadi antara Indonesia dan Belanda dan juga diselenggarakan sang para kepala negara dan pemerintahan. di waktu itu. menggunakan diberlakukannya KMB, Indonesia menerima pengakuan kedaulatan oleh Belanda dan mencatatkan sejarah terjalinnya korelasi diplomatik dengan negara lain. BFO juga berpartisipasi pada konferensi tersebut. BFO artinya dewan federal yg dibuat oleh Belanda. Negara Republik Indonesia serikat (RIS) adalah yang akan terjadi KMB yang berbunyi: “Republik Indonesia perkumpulan mendapatkan kedaulatan sesuai ketentuan pada konstitusinya. Rancangan konstitusi telah diumumkan pada Kerajaan Belanda.” asal yang akan terjadi KMB, Indonesia terbagi menjadi 16 pemerintahan federal. Keputusan ini pun menuai poly protes asal elite politik serta partai sehingga membentuk pemerintah tidak efektif.
Muhammad Natsir menjabat menjadi Perdana Menteri pada September 1950 hingga April 1951. pada masanya, Indonesia masuk ke pada liga Bangsa-Bangsa (PBB) dengan dukungan negara-negara Eropa serta Timur Tengah. Meski ditentang Belanda, Indonesia permanen bergabung dalam liga Bangsa-Bangsa (PBB) karena sesuai kesepakatan internasional bahwa bentuk negara merupakan urusan dalam negeri, Indonesia berhak memilih pilihannya. Perekonomian Indonesia ketika itu sedang membaik. Meski begitu, Muhammad Natsir dinilai gagal sebab tidak berhasil memenangkan Papua pada perundingan KMB serta dicopot berasal jabatannya sebagai Perdana Menteri. yg kedua ialah Soekiman Wirjosandjoyo. konflik kali ini adalah adanya politik MSA (Mutual Security Act) antara Indonesia dan Amerika perkumpulan pada bawah kepemimpinan Ahmad Soebardjo menjadi Menteri Luar Negeri Republik Indonesia. Isinya artinya perjanjian militer antara Indonesia dan Amerika serikat, dimana Indonesia tak menginginkan perjanjian militer itu terjadi karena dikhawatirkan berada pada bawah dampak politik Amerika. Saat Ali Sastroamidjojo I menjadi Perdana Menteri Indonesia terjadi sejarah baru yaitu Konferensi Asia Afrika pada Bandung pada tahun 1955. kemudian di masa Ali Sastroamidjojo II terjadi insiden yg menandai diplomasi pada Indonesia yaitu mundurnya Moh. Hatta menjadi Wapres. Alasan mundurnya karena disparitas visi, arus politik dan tujuan menggunakan Soekarno, dimana Sukarno mempunyai ambisi yg bertenaga buat sebagai pemimpin dunia.

