Public Domain, Harta Terpendam di Indonesia

Film besutan perusahaan adidaya Disney ini berhasil meraup pendapatan sebesar $665 juta pada semua global. Bukankah itu luar biasa? Meski dikenal menjadi galat satu superhero Marvel yg paling populer, karakter Thor sebenarnya berasal berasal mitologi Skandinavia yg lalu diadopsi dan direkonstruksi pada narasi yang berbeda. Mengapa Marvel bisa membarui cerita sesuka hati, sedangkan karakter Thor bukanlah karya orisinil asal perusahaan komik mereka? sebab sebab mitologi Thor artinya Public Domain. Secara sederhana, Public Domain mengacu di materi apa pun yang tidak dilindungi oleh undang-undang kekayaan intelektual, mirip hak cipta, merek dagang, dan paten berasal karya tadi. Hal ini dapat terjadi Bila hak cipta suatu karya sudah berakhir atau dicabut oleh penciptanya, atau karya yg merupakan kekayaan budaya suatu rakyat. menggunakan demikian, mitologi Thor yg berusia ribuan tahun termasuk pada kategori ini dan bebas digunakan sang siapa saja pada menerbitkan buku, komik, atau film layar lebar. Nah pada kesempatan kali ini aku ingin membahas domain publik di negara tercinta Indonesia. tidak terhitung kekayaan intelektual yg bisa dikisahkan pada negeri ini. Setiap provinsi hingga kecamatan memiliki cerita rakyat, takhayul hingga mitologi yang sangat menarik Jika mampu dipalsukan oleh tangan-tangan penulis tanah air. tidak percaya? mungkin anda bisa membaca cerpen sederhana saya yg terinspirasi dari domain publik asal ponorogo ini (disini). Meski kaya akan mitologi, penikmat fiksi pada Indonesia sporadis disuguhkan menggunakan karya-karya yang lahir dari warisan nenek moyang tadi. Mengapa demikian? Beberapa poin di bawah ini mampu menjawabnya.
Internasional > Lokal
telah menjadi misteri umum bahwa produk naratif asal luar negeri lebih disukai sang penikmat fiksi di Indonesia. aku masih jangan lupa masa kejayaan film Harry Potter yang merambah negeri ini di tahun 2000-an. Walaupun aku tinggal pada wilayah terpencil, euforia berasal serial adaptasi novel ini masih dirasakan oleh teman-sahabat sekolah dan orang tua pada wilayah tempat saya tinggal. Generasi berganti, tetapi tren ini seolah tidak terbendung, sehingga produk naratif yang menjadi pusat perhatian selalu tiba dari luar negeri. Animasi atau anime Jepang, contohnya, berhasil merajai jam tayang televisi lokal di ketika primetime. Serial seperti One Piece, Naruto serta Bleach digadang-gadang menjadi 3 akbar yang menyita perhatian penikmat fiksi Indonesia. Selain itu, popularitas serial adaptasi superhero asal Amerika serikat itu kini menempati posisi teratas di setiap bioskop dan layanan streaming pada Indonesia. Padahal, Bila kita mengurai narasi dari karya-karya tadi, dominan cerita asal asal sumber yang sama, domain publik tempat penulis cerita dilahirkan. Harry Potter terinspirasi dari Lord of The Rings yang jua terinspirasi berasal cerita masyarakat Jerman. Naruto yg diadopsi berasal mitologi Ninja di Jepang bahkan memasukkan beberapa karakter asal cerita rakyat seperti Jiraiya, Tsunade, serta Orochimaru. Bahkan Superman pun tidak luput dari proses adopsi. The Man of Steel merupakan adaptasi asal karya apik filosofis Friedrich Nietzsche yg membayangkan sosok insan tepat atau The Übermensch. Jika demikian, produk naratif lokal sebenarnya mempunyai potensi yg luar biasa Bila berani mengadopsi Domain Publik yang tumbuh dan berkembang pada negeri ini. stigma bahwa karya internasional selalu lebih baik wajib diubah buat menaikkan gairah produksi fiksi di Indonesia.
Gaya goresan pena Asing = Keren
Sebenarnya tak terdapat salahnya Bila penulis lokal lebih menyukai gaya penulisan penulis asing. saya sendiri lebih senang menulis puisi dalam bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia (Pengkhianat!). Bukan karena apa-apa, bahasa Indonesia itu sulit. namun, sangat tak jarang aku menjumpai novel atau film terkenal yg menggunakan setting asing. Mulai asal penamaan karakter sampai daerah berlangsungnya pengisahan yang kental menggunakan nuansa Eropa, China, Timur Tengah, atau Korea Selatan, sekalipun bercerita perihal bepergian orang-orang Indonesia. Jika hal ini terus dilakukan secara masif, produk naratif Indonesia bisa kehilangan identitasnya. Maka, plagiarisme karya fiksi asing sudah menjadi hal yg lumrah bagi media hiburan kita. menjadi perbandingan, saya mengajak sahabat-sahabat untuk memejamkan mata sejenak. Bayangkan secara ekstrim, (karakter, cerita, plot serta setting) mirip apa ciri-ciri film Indonesia, kemudian bandingkan menggunakan film India. aku berani bertaruh, kesan yg lebih bertenaga pasti akan timbul dari film-film India, sebab industri film India telah membentuk ciri yg bertenaga selama bertahun-tahun keberadaannya. Keseriusan industri hiburan India pada mengedepankan identitas sebagai pelajaran penting yang bisa dipetik oleh industri hiburan Tanah Air.

