• BERANDA
  • TENTANG
    • Profil
    • Visi dan Misi
    • Fungsi & Tujuan
    • Struktur Organisasi
    • Pimpinan & Staff
    • Program Kerja
  • BERITA KEGIATAN
  • KERJASAMA
  • LAYANAN & INFORMASI
    • Form Booking Ruangan
    • Aplikasi
      • Susitao
      • Sitori
    • Arsip Digital
      • Arsip Surat
      • Arsip Peminjaman
      • Arsip Surat Gaji Tertunda
    • Helpdesk BKTaruna
    • Jadwal Kegiatan
    • Permohonan Pemakaian Ruangan
    • Jadwal Gedung
    • KOP SURAT
    • Sarana Kampus
  • SARANA
    • PRASARANA
      • Laboratorium
      • Kebun Percobaan
      • Asrama Kampus
      • Gelanggang Serbaguna
      • Sarana Olahraga
      • Masjid Kampus
      • Bus Kampus
      • Lokasi Parkir
      • Foto Kegiatan
      • Taman Hutan Raya (TAHURA)
  • ARSIP
Biro Pengelolaan Keuangan dan Tata Laksana Rumah Tangga
    • BERANDA
    • TENTANG
      • Profil
      • Visi dan Misi
      • Fungsi & Tujuan
      • Struktur Organisasi
      • Pimpinan & Staff
      • Program Kerja
    • BERITA KEGIATAN
    • KERJASAMA
    • LAYANAN & INFORMASI
      • Form Booking Ruangan
      • Aplikasi
        • Susitao
        • Sitori
      • Arsip Digital
        • Arsip Surat
        • Arsip Peminjaman
        • Arsip Surat Gaji Tertunda
      • Helpdesk BKTaruna
      • Jadwal Kegiatan
      • Permohonan Pemakaian Ruangan
      • Jadwal Gedung
      • KOP SURAT
      • Sarana Kampus
    • SARANA
      • PRASARANA
        • Laboratorium
        • Kebun Percobaan
        • Asrama Kampus
        • Gelanggang Serbaguna
        • Sarana Olahraga
        • Masjid Kampus
        • Bus Kampus
        • Lokasi Parkir
        • Foto Kegiatan
        • Taman Hutan Raya (TAHURA)
    • ARSIP

    artikel

    • Home
    • Blog
    • artikel
    • Privilege Mahasiswa dalam Memajukan Pendidikan di Indonesia

    Privilege Mahasiswa dalam Memajukan Pendidikan di Indonesia

    • Posted by BKTARUNA UMA
    • Categories artikel
    • Date 07/01/2023

    Indonesia

    Indonesia merdeka pada tahun 1945, dengan menghasilkan cita-cita bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu tujuan kemerdekaan Indonesia. Sudah 77 tahun silam, isu perjuangan pergerakan nasional terus dibicarakan. Pendidikan, unsur yang tidak bisa dilepaskan dari diri manusia. Di mana, manusia akan belajar dan menerapkan apa yang dipelajari sesuai batas kemampuan optimalnya. Persoalan ini sudah dibahas sejak bertahun-tahun yang lalu.

    Hal ini, mengacu pada sistem pendidikan di Indonesia, yang membuat geleng-geleng kepala. Dibuktikan dengan data dari Unesco (2000), mengenai peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per-kepala. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999). Menurut survei dari Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia menempati urutan ke-12 dari 12 negara yang ada di Asia. Data yang dilaporkan oleh The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing rendah, yang menempati urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei. Dari data tersebut, bisa dilihat bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun dan tingkat pendidikan di Indonesia masih diragukan.

    Tentu saja, hal ini tidak bisa diacuhkan begitu saja. Indonesia butuh penerus untuk memperbaiki sistem dan permasalahan yang ada, terutama di bidang pendidikan ini. Lalu, siapakah yang pantas menjadi penerus itu? Mahasiswa. Mahasiswa memiliki peranan penting dalam keberlangsungan kehidupan bangsa Indonesia ke depan. Mengingat mahasiswa juga sebagai bentuk lambang dari suatu bangsa itu sendiri. Hal tersebut yang kemudian menimbulkan ketersinambungan dalam hal privilege mahasiswa.

    Menurut Ahmad D. Mariban, pendidikan merupakan bentuk pembimbingan secara sadar oleh tenaga pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani untuk membentuk kepribadian yang utama. Pendidikan mencakup beberapa unsur. Pertama, usaha atau kegiatan berupa bimbingan dan dilakukan secara sadar. Kedua, ada pembimbing, pendidik, dan penolong. Ketiga, ada yang dididik. Keempat, pembimbingan harus mempunyai dasar dan tujuan yang jelas. Dan yang terakhir, harus ada sarana dan prasarana yang mendukung.

    Namun, realitanya, Indonesia susah menerapkan dan tetap menjadi negara dengan sistem pendidikan yang rendah. Mulai dari pelaksanaan kurikulum, kompetensi, kualitas, bahkan sistem kepemimpinan, mulai dari bawah sampai ke atas. Masalah pendidikan seakan tidak ada habisnya, kompetensi para pendidik dan pimpinan, sarana dan prasarana, seakan tidak dialokasikan secara maksimal dan merata. Ditambah lagi dengan adanya otonomi daerah, sistem pendidikan nasional dituntut untuk melakukan berbagai perubahan dan penyesuaian. Tujuannya untuk mewujudkan proses pendidikan yang demokratis, memperhatikan keberagaman dan kebutuhan daerah, serta adanya peningkatan partisipasi masyarakat.

    Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan di Indonesia masih terbilang rendah. Pertama, kualitas pendidik yang masih kurang. Pendidik atau pengajar di Indonesia terbilang low quality karena lemahnya dalam menggali potensi siswa. Mereka cenderung memaksakan kehendak atau keputusan kepada siswa untuk mempelajari semua hal tanpa memperhatikan kebutuhan, minat, dan bakat yang dimiliki oleh masing-masing siswa. Pendidikan seharusnya berperan sebagai sarana pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan bagi pelajar dengan memperhatikan kebutuhan mereka, bukan memaksakan kehendak yang membuat pelajar kurang nyaman dalam menuntut ilmu.

    Di sisi lain, jam pembelajaran yang berlaku di sistem pendidikan Indonesia terbilang terlalu lama. Padahal, pada jam pembelajaran tersebut hanya membahas terkait mata pelajaran secara akademis. Siswa menjadi kurang memiliki waktu, lelah duluan, kurang berminat, dan kurangnya kesempatan untuk mengasah kemampuan lainnya melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun organisasi. Jam pembelajarannya yang cukup lama ini dapat menimbulkan rasa bosan dan stres terhadap siswa. Apalagi, model pembelajaran yang digunakan dalam sekolah cenderung sama dan jarang ada inovasi.

    Menjadi mahasiswa merupakan sebuah privilege tersendiri. Tak banyak keberuntungan yang bisa didapat untuk meraih asa sebagai mahasiswa. Mahasiswa, sering disebut dengan agent of changes atau agent of conversations. Di mana, tidak lepas kaitannya dengan garda terdepan dan sosok perubahan bagi citra bangsa. Di era mahasiswa inilah, bisa dikatakan seseorang memiliki hak sebebas-bebasnya dalam menyuarakan pikiran dan pendapatnya. Mahasiswa bukan lagi siswa yang dalam sistem pembelajarannya lebih sering diatur oleh tenaga pendidik. Mahasiswa harus bisa berpikir kritis, logis, dan presentasi dari bentuk perubahan ke arah yang lebih baik.

    Peran seperti apa yang dimainkan mahasiswa sebagai simbol bangsa tergantung dari bagaimana implementasi sistem pendidikan yang ada. Pendidikan di Indonesia secara formal yang dimulai dari SD sampai SMA, cenderung menerapkan sistem harus taat aturan. Maksudnya adalah di mana siswa harus mengikuti aturan atau keputusan yang dibuat oleh pihak yang berwenang. Siswa cenderung tidak diberi kebebasan dalam menentukan keputusan dan arah geraknya. Siswa dituntut untuk memahami dan menguasai elemen-elemen dalam setiap pembelajaran. Padahal, kita tahu, bahwa setiap orang memiliki kemampuannya sendiri-sendiri, yang disebabkan oleh faktor biologis maupun pengaruh lingkungan sekitarnya.

    Jika, membahas tentang perubahan sistem pendidikan di Indonesia, memang bukan ranah dari mahasiswa. Tetapi, mahasiswa bisa menciptakan sistem atau inovasi di luar pembelajaran secara formal. Tujuannya untuk mengimbangi kemampuan anak yang tidak dimaksimalkan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Mahasiswa diharapkan memiliki komunikasi dan kemampuan yang baik dalam memberikan kemajuan untuk bangsa. Mahasiswa juga diharapkan berperan aktif, mengingat mahasiswalah yang akan membawa bangsa Indonesia ini dalam memajukan bangsa atau dalam menciptakan perwujudan SDGs.

    Lalu, hal seperti apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa?

    Mahasiswa bisa melakukan sosialisasi terkait fungsi dan peran pendidikan itu sendiri, jika diperlukan, juga bisa menjelaskan tentang SDGs atau pembangunan berkelanjutan. Dengan sosialisasi ini, diharapkan mahasiswa bisa memberikan dampak dalam bentuk kesadaran masyarakat sebagai elemen bangsa. Mahasiswa juga dapat mengajak masyarakat untuk ikut andil dalam membenahi pendidikan di Indonesia dan implementasinya. Menciptakan kesadaran akan pentingnya pendidikan, entah formal maupun informal di masyarakat. Memberi pemahaman bahwa sebagai masyarakat, kita tidak sepatutnya untuk terus mengikuti keputusan pemerintah. Kita berhak menyuarakan pikiran dan pendapat kita jika dirasa apa yang diputuskan pemerintah, terutama di bidang pendidikan, memiliki banyak kekurangan dan penyimpangan.

    Mahasiswa juga dapat menciptakan komunitas atau organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan. Di mana di komunitas tersebut, bisa sama-sama belajar dan mengasah setiap kemampuan individu. Memberikan normalisasi bahwa manusia tidak harus unggul dalam segala bidang. Juga memberikan motivasi bahwa manusia hebat dengan keunggulannya masing-masing. Di komunitas ini, bisa juga sebagai sarana untuk bercerita dan sharing, dalam konteks apapun. Karena sejatinya, manusia merupakan makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari pengaruh orang lain.

    Hal lain yang bisa dilakukan adalah mengembangkan bakat dan minat di bidang membaca dan kepenulisan. Misalnya, membuat esai, KTI, atau karya tulis lain, yang isinya narasi berbobot. Narasi berbobot artinya ketika membuat karya, kita tidak hanya asal-asalan dalam menciptakan topik, memilih kata atau diksi, memberikan penelitian tanpa sumber, serta dapat mempertanggung jawabkan apa yang kita tulis di dalamnya. Dalam dunia sekolah, siswa jarang atau bahkan tidak pernah diberi pembelajaran atau pengarahan dalam hal kepenulisan. Siswa biasanya cenderung untuk menulis yang ada atau dalam konteks mata pelajaran saja. Padahal, membuat karya tulis ilmiah merupakan salah satu cara bangsa untuk menampilkan citranya di kancah internasional. Dalam perlombaan karya tulis juga, akan diasah mengenai skill communication. Di pembelajaran negara kita, siswa cenderung untuk dituntut mendengarkan dan jarang diberi hak untuk bersuara. Hal inilah yang membuat Indonesia mundur dalam bidang pendidikan, dibandingkan negara-negara lain.

    Nah, itulah mengapa mahasiswa harus aktif dalam hal riset untuk memunculkan ide-ide kreatif yang akan dibawa dalam menciptakan karya tulis. Mahasiswa bisa memberikan impact untuk merealisasikan program SDGs. Dari memberikan ke lingkungan terdekat dengan tujuan pemberian motivasi dan pengajakan untuk sama-sama membuat karya tulis. Sharing terkait isu atau permasalahan, serta penyelesaian yang harus diambil dalam sistem dunia. Dari tulisan atau karya ilmiah, bisa menjadi cermin dari bagaimana bangsa Indonesia. Dunia internasional akan melihat dan melirik bangsa ini. Maka dari itu, penulisan karya ilmiah tidak bisa dibuat dengan asal-asalan dan sebisa mungkin memiliki narasi yang baik.

    Bentuk dari inovasi ini dikarenakan mahasiswa bukan lagi siswa yang target belajarnya didapat dalam sekolah saja. Mahasiswa dituntut untuk bisa terjun ke dalam masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Mahasiswa tidak boleh tutup mata atas fenomena atau kejadian yang ada. Mereka harus siap sedia memberikan pikiran kritis sebagai penyelesaian atas permasalahan yang menjadi keresahan sebagian kecil maupun sebagian besar dari masyarakat.

    Dari penjabaran di atas, kita dapat mengetahui bagaimana mahasiswa berperan penting dalam dunia pendidikan. Mengingat, pendidikan adalah hal yang penting. Pendidikan dan mahasiswa bisa dikatakan sebagai cerminan dari bangsa Indonesia. Dengan memaksimalkan pendidikan yang ada di Indonesia, diharapkan juga bisa meningkatkan sumber daya manusia, sehingga mampu bersaing dengan negara-negara lain.

    • Share:
    author avatar
    BKTARUNA UMA

    Previous post

    Penggunaan Nilai-Nilai Pancasila sebagai Sistem Filsafat
    07/01/2023

    Next post

    Pentingnya Kemampuan Digital dalam Pemenuhan Kebutuhan Industri
    07/01/2023

    You may also like

    Kuliah Jarak Jauh
    Strategi Pengembangan Kuliah Jarak Jauh yang Lebih Efisien
    16 July, 2026
    listrik mandiri
    Pengembangan Listrik Individu untuk Kehidupan Mandiri: Solusi Energi Masa Depan
    15 July, 2026
    cara memanfaatkan aki bekas untuk listrik mandiri
    Cara Memanfaatkan Aki Bekas untuk Listrik Mandiri
    14 July, 2026

    Instagram

    KAITAN UMA

    Penjaminan Mutu Universitas Medan Area - Universitas terbaik menerapkan kampus digital dengan mendukung program kampus merdeka menjadi PTS favorit di sumut.
    Himpunan Aplikasi Online Universitas Medan area - Universitas terbaik menerapkan kampus digital dengan mendukung program kampus merdeka menjadi PTS favorit di sumut.
    Jurnal Imiah Dosen Universitas Medan Area - Universitas terbaik menerapkan kampus digital dengan mendukung program kampus merdeka menjadi PTS favorit di sumut.
    Database Jurnal Mahasiswa Universitas Medan Area - Universitas terbaik menerapkan kampus digital dengan mendukung program kampus merdeka menjadi PTS favorit di sumut.
    Repository Universitas Medan Area - Universitas terbaik menerapkan kampus digital dengan mendukung program kampus merdeka menjadi PTS favorit di sumut.
    OPAC (Open Access Public Catalog) Digital library Universitas Medan Area - Universitas terbaik menerapkan kampus digital dengan mendukung program kampus merdeka menjadi PTS favorit di sumut.

    Lokasi

    https://bktaruna.uma.ac.id/

    • Helpdesk
    • [email protected]

    KAMPUS I

    Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate /Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
    (061) 7360168. CALL CENTER : 0811-6013-888 Whatsapp
    Fax : (061) 7368012
    [email protected]

    KAMPUS II

    Jalan Sei Serayu No. 70 A / Jalan Setia Budi No. 79 B, Medan 20112
    (061) 42402994
    Fax : (061) 8226331
    [email protected]

    © Copyright 2026 PDAI | Universitas Medan Area