Perempuan dan Pembentukan Pendidikan Anti Kekerasan Anak

Kasus kekerasan perempuan yang dilakukan oleh beberapa remaja yang sempat mengakibatkan korban koma tak sadarkan diri masih saja menjadi sorotan masyarakat belakangan ini. Media tanah air terus menyoroti kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak petinggi instansi keuangan dan teman-temannya itu. Kekerasan yang dilakukan oleh anak dan remaja sudah seringkali terjadi, kasus diatas menambah daftar panjang kekerasan anak dan remaja. Fenomena ini sungguh meresahkan, kekerasan tidak ada habisnya, terus saja berulang dan seakan sudah membudaya dan melekat pada proses pencarian jati diri anak dan remaja.
Mereka tidak segan mempertontonkan kekerasan sebagai bukti eksistensi seberapa kuasa diri mereka dihadapan liyan. Ada yang melakukannya secara berkelompok ataupun sendirian. Kekerasan dilakukan secara berkelompok, jika targetnya adalah individu, maka terjadilah pengeroyokan yang tidak berimbang sehingga korban menjadi bulan-bulanan para pelaku. Jika targetnya adalah kelompok, kedua kelompok saling menyerang dalam bentuk tawuran. Anak dan remaja melakukan tindak kekerasan perempuan tanpa mempertimbangkan norma, melanggar hak orang lain dan nir-empati. Ini merupakan tanda awal kegagalan pendidikan dalam keluarga dan institusi pendidikan. Kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak dan remaja memang tidak bisa digeneralisasikan, banyak faktor yang mempengaruhi munculnya budaya kekerasan di lingkaran mereka. Tetapi penting untuk dicari duduk permasalahan dan solusinya.
Sebagai tahap kita bisa berawal dari rumah sebagai sarana pendidikan pertama bagi anak, orang tua selaku pendidik yang berkesinambungan dari waktu ke waktu seharusnya dapat memberikan contoh nyata melalui sikap dan perilaku mereka. Orang tua dapat menanamkan nilai-nilai moral dan etika serta empati di masa keemasan anak yaitu saat usia dini sebelum aqil baligh. Sehingga ketika anak berada dalam lingkungan atau kelompok yang dapat memberi pengaruh negatif, anak punya pondasi yang kuat akan nilai-nilai etika dan kehidupan sehingga tidak akan terpengaruh nilai-nilai negatif dari lingkungan pertemanannya. Si anak mampu menyadari berada di tempat yang salah dan segera memutuskan keluar dari pergaulan itu.
Orang tua punya kewajiban sosial dan moral untuk membimbing anak-anaknya menjadi manusia berguna dengan menanamkan nilai-nilai kehidupan. Manfaatkanlah waktu sejak dini ketika anak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Manfaatkan masa-masa kebersamaan tersebut secara optimal untuk menunaikan amanah mulia sebagai orang tua. Asah dan tingkatkan kualitas diri agar pantas dan kompeten sebagai pendidik sepanjang waktu. Sehingga kita bisa katakan dengan kepala tegak bahwa pergaulan buruk tidak akan mampu merusak kebiasaan baik yang ditanamkan di rumah. Dalam konteks keluarga, peranan ibu mempunyai hal yang sangat vital terhadap tumbuh kembangnya anak. Dalam konteks yang lebih luas, perempuan juga punya peranan penting, dalam pembentukan karakter anak. Karena itulah, mari terus menjaga, agar tumbuh kembang anak-anak kita bisa dijauhkan dari bibit kekerasan dan radikalisme, yang saat ini terus bermunculan di media sosial.

