Pahlawan Ekonomi Nusantara
“Berapa jumlah guru yang tersisa?”, begitu tutur Kaisar Hirohito pasca perang dunia II. Betapa bernilainya seorang guru di mata Kaisar. Jepang menjadi negara maju dan bangkit kembali hanya dalam kurun 20 – 50 tahunan lebih awal dari prediksi dunia. Sejarah ini menjadi bukti dan sebagai ilustrasi bahwa kemajuan sebuah bangsa, mutlak memerlukan peran guru. Hampir seluruh penduduk 99% yang berusia di atas 15 tahun dapat membaca dan menulis. Perekonomian, perindustrian, sosial bahkan teknologi bangkit dengan pesat karena ada citra kasih guru yang tidak terabaikan di dalamnya. Sekilas saya mengutip sejarah Jepang pasca perang dunia II sebagai iktibar untuk menjelaskan secara implisit tentang pahlawan ekonomi Nusantara. Tentu, sebagian dari pembaca berasumsi bahwa tidak ada korelasi sedikit pun antara guru dengan tema “Pahlawan Ekonomi Nusantara”. Guru melahirkan murid, sedangkan murid menjelma menjadi apa yang membuat mereka bahagia. Bahagia menjadi petani juga tidak ada larangan. Toh, “petani juga pahlawan ekonomi kita” tutur mentan Syahrul Limpo.
Di balik keemasan dan keberuntungan seorang petani ada seorang guru yang menjadikannya berhasil dan beruntung. Tidak terlepas dari kata belajar dan membaca. Itulah dogma sederhana yang guru berikan kepada petani bahkan seluruh manusia yang berhasil di dunia ini karena membaca. Terciptanya obat tanaman (pupuk) seperti Bayfolan, Gandasil, dan Wuxal yang tidak terlepas dengan yang namanya guru. Zaman dan keadaan berevolusi pesat karena ada cahaya ilmu dari guru di dalamnya. Tanpa membaca dan belajar semuanya nihil terjadi di dunia ini.
Kausalitas kemajuan ekonomi karena ada insan yang senantiasa membaca dan belajar, sedangkan keterpurukan ekonomi karena sifat individualisme yang masif di suatu kalangan. Guru menjadi barang jasa jangka panjang yang seharusnya insan menusantara bisa melihat sisi filosofi dari seorang guru. Alih-alih begitu juga seorang petani yang menanam bukan hanya untuk kenyang hari ini saja. Tetapi, mereka memikirkan kehidupan petani-petani setelahnya.
Pada akhirnya, pahlawan terlahir dari pahlawan itu sendiri. Begitu pula petani yang terlahir dari buaian guru. Ladang tidak akan menjadi subur jika penanamnya tidak berpengetahuan. Kemajuan ekonomi dengan pendidikan seyogyanya bergandengan. Bagaimana mungkin ekonomi yang berkembang tanpa disertakan pendidikan di dalamnya. Dan apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, dan apa yang kita rasakan adalah pendidikan.
Pertanian yang mulanya tradisional beralih menjadi modern karena ada pendidikan guru di dalamnya. Di balik peran petani sebagai “Pahlawan Ekonomi Nusantara”, ada pahlawan lebih heroik yang menusantara. Dialah guru, sang pahlawan yang terkesan sangat sederhana tanpa mengakui dirinya seperti pahlawan. Namun, berakhir istimewa senantiasa dikenang.

