Mewujudkan Harmoni dalam Keberagaman Indonesia

tidak dapat disangkal bahwa Indonesia adalah negara yg beragam. tidak ada yang memungkiri bahwa keberadaan suku-suku yang beredar asal Aceh sampai Papua mempunyai berbagai latar belakang yang melekat padanya. semua itu sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. serta semua itu bukanlah kehendak para founding fathers bangsa ini. semua itu ialah anugrah yang yang kuasa berikan pada kita seluruh. Mengapa ini diklaim sebagai hadiah? sebab tidak ada negara yg mempunyai keragaman mirip Indonesia. serta Indonesia berhasil mempertahankannya sampai kini melalui Pancasila. namun, aneka macam tantangan terus bermunculan yg mengancam kebhinekaan pada Indonesia. keliru satunya artinya provokasi kebencian yang terus dikobarkan sang kelompok radikal. tidak jarang mereka juga melakukan provokasi bernuansa SARA pada media umum. seluruh itu dilakukan, tentunya bukan tanpa alasan. Mereka sengaja tampil agar warga tampil galau sekaligus gaduh. waktu itu terjadi mereka akan langsung menyalahkan pihak-pihak eksklusif, yg disebut tidak Islami, tidak berpihak pada dominan dan sebagainya. Akhirnya mereka menyalahkan Pancasila serta sistem demokrasi, serta mengusulkan khilafah.
Pola seperti itu telah awam. namun faktanya masih poly orang yg belum memahaminya. Hal ini tidak lepas dari literasi sebagian masyarakat yang masih rendah. sebagai akibatnya simpel buat pribadi percaya setiap informasi yg berkembang, tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu. Padahal, informasi ini sengaja dimunculkan buat menyesatkan warta yang sebenarnya. isu menyesatkan ini biasanya disematkan sentimen provokatif. Mereka merasa paling benar, paling unggul sebab menjadi bagian asal mayoritas. Akibatnya, grup minoritas pada rakyat kerap disebut menjadi ancaman, sebab dicap sesat bahkan kafir. tidak heran Bila gerombolan minoritas ini kerap didiskriminasi sang orang-orang yg mengaku paham agama. sungguh ironis. munculnya praktik intoleransi ini sebab klaim kebenaran agama. Sindrom klaim kebenaran inilah yang kemudian melahirkan arogansi terhadap kelompok lain.
Perlu terdapat perubahan mindset, supaya problem budaya yang sudah berubah sebagai struktural bisa dicarikan solusinya. tidak peduli agama apa yang mengajarkan yg paling benar. juga mewujudkan tak terdapat yg mengajarkan buat saling membenci. pada konteks Indonesia, sinergi antara agama dan budaya lokal melahirkan akulturasi yang mampu merangkul segala disparitas. Semangat ini perlu diteruskan di era terkini mirip saat ini. Sedangkan buat mengatasi persoalan struktural, diharapkan sikap tegas asal pemerintah. menggunakan hadirnya negara pada mengatasi problem struktural ini, diharapkan akan tercipta keharmonisan pada rakyat. aturan yang dibuat pula harus bisa merangkul kepentingan semua pihak, tidak hanya ditujukan buat gerombolan eksklusif saja. mari kita semangatkan kemerdekaan Agustus ini, buat terus menciptakan keharmonisan pada keberagaman Indonesia.

