Menikmati Kafein Tanpa Nikotin

Mulai saat saya kecil, ayah saya gemar sekali minum kopi meskipun waktu kru itu kopi hitam instan kemasan sachet. Saya pernah mencicipi kopi tersebut sesuap sendok teh, rasanya pahit, tetapi agak manis, maklum waktu itu ayah saya masih gemar kopi instan. Mulai Kapan saya gemar kopi? Saya baru benar-benar kecanduan kopi sejak Kelas X SMA, waktu itu berupa beli kopi instan siap minum. Awal mulanya bukan karena jatuh cinta, melainkan beratnya mata agar terbuka dan mengantuk saat UAS. Setelah ternyata berefek baik, saya setiap hari sekolah selalu diberi uang saku tambahan untuk beli kopi tersebut, harganya sekitar 5 ribuan. Kebiasaan saya ini masih berlanjut secara baik hingga di bangku perkuliahan, saat itu juga saya mulai menjadi penikmat kopi di kafe. Begitu kenal dunia kafe, saya menemukan banyak sekali kalangan muda atau berumur senior yang menikmati kopi sambil mengisap rokok.
Tidak salah lagi kalau banyak masyarakat yang menganggap bahwa pencinta kopi identik dengan perokok, apapun jenis kopinya. Ini sangat berbanding terbalik dengan kebiasaan ayah saya yang tetap menyukai kopi meskipun tidak suka merokok ataupun vape. Bahkan, ibu saya dan keluarga pihak ayah saya bercerita kalau ayah saya tidak pernah merokok sejak masa remaja hingga detik ini. Di keluarga ayah saya, hanya mendiang kakek dan kakak ayah saya yang perokok berat, sedangkan dari keluarga ibu saya, hanya adik ibu saya yang merokok. Bagaimana dengan saya? Sama dengan Ayah, saya paling anti terhadap rokok atau berbagai produk tembakau lainnya, termasuk vape.
Pernah pada waktu kuliah, saya ditawari rokok saat nongkrong di sebuah kafe, tetapi saya secara tegas menolak rokok. Waktu itu juga, ada teman saya yang juga suka kopi tidak suka merokok akhirnya terpengaruh dan mencoba sebatang rokok yang ditawarkan teman saya yang lain. Mungkin, apakah ada di antara para pembaca artikel ini yang sama dengan saya, anti rokok tetapi suka sekali dengan minuman kopi?
Prinsip saya, kopi yang punya kafein dan zat lain dan bermanfaat bagi kesehatan tidak ideal bersama rokok dengan berbagai zat berbahaya seperti nikotin dan tar dan berdampak buruk bagi kesehatan. Bahaya rokok yang mengerikan membuat saya untuk menolak rokok selain dari faktor keluarga yang mayoritas bukan perokok. Saya benar-benar belajar dari ayah saya bagaimana tetap bisa menikmati kopi tanpa harus bersama rokok. Mungkin terdengar aneh, tapi bagi saya, menikmati kafein tanpa nikotin adalah kenikmatan tersendiri. Justru yang aneh adalah mengapa untuk menikmati kopi yang memiliki efek positif harus bersama dengan rokok yang sangat berdampak negatif. Impian saya adalah menepis anggapan penikmat kopi pasti penghobi rokok dan menormalisasi menikmati kopi tanpa rokok. Tidak ada salahnya kok, menikmati kopi tidak harus bersama dengan rokok dan itu adalah hal yang sangat wajar, tidak perlu menghakimi.

