Memahami PLC, Kontroler Mesin Industri

Programmable Logic Controller (PLC), yang merupakan kependekan dari Pengontrol Logika yang Dapat Diprogram, berfungsi sebagai pengendali dalam proses industri, mengatur kontak-kontak dan sensor yang terhubung padanya menggunakan skema gerbang logika. Melalui gerbang logika ini, kita dapat mengelola pergerakan mesin, melakukan pencatatan data, serta mengatur parameter-parameter dalam sebuah mesin untuk mencapai suatu proses tertentu. Memahami PLC memiliki perbedaan mendasar dengan pemrograman konvensional, meskipun keduanya bergantung pada algoritma dan skema if-else. Perbedaan tersebut dapat dirasakan ketika mulai memprogram dengan menggunakan PLC. Beberapa perbedaannya mencakup:
- Basis Penyusunan Program Basis penyusunan program pada pemrograman konvensional bergantung pada use-case atau keperluan pemrograman tersebut. Pemrogram perlu mempertimbangkan latar belakang dan tujuan penggunaan program, seperti apakah program itu digunakan untuk Machine Learning atau hanya untuk pengolahan data sederhana. Dalam pemrograman PLC, dasar penyusunan program lebih banyak didasarkan pada sensor dan cara sebuah mesin beroperasi. Sebagai contoh, jika kita membuat mesin untuk mengelompokkan barang, perhatian utama akan ditujukan pada jenis sensor yang digunakan dan bagian mana dari mesin yang akan terpengaruh oleh program PLC. Oleh karena itu, dasar pemrograman PLC lebih fokus pada pengaturan rangkaian kelistrikan dan mekanik mesin.
- Bahasa yang Digunakan Berbeda dengan pemrograman konvensional yang menggunakan bahasa pemrograman berbasis teks, PLC memiliki tiga jenis bahasa yang umum digunakan dalam proses industri, tergantung pada bentuknya. Bahasa-bahasa tersebut meliputi Ladder (LD), Structured-Text (ST), dan Function Block Diagram (FBD). Alasan untuk adanya berbagai bentuk tersebut adalah karena proses industri pada dasarnya bervariasi antara merek dan manufaktur. Selain itu, terdapat perbedaan kemampuan antara satu bahasa dengan yang lainnya. Sebagai contoh, jika suatu program terlalu kompleks dalam bahasa Ladder, menggunakan FBD mungkin dapat mengurangi kompleksitasnya. Sebaliknya, hal-hal yang sederhana mungkin tidak efektif jika dituliskan dalam FBD, tetapi dapat lebih jelas jika menggunakan bahasa Ladder.
-
Fleksibilitas Program Perlu diakui bahwa fleksibilitas program juga merupakan kelemahan dalam pemrograman PLC dibandingkan dengan pemrograman konvensional. Dalam memahami pemrograman PLC, suatu program yang dibuat untuk merek tertentu, contohnya merek Omron, tidak dapat digunakan secara langsung untuk merek yang berbeda, seperti merek Mitsubishi. Kecuali, program tersebut diubah atau dituliskan ulang pada program yang sesuai dengan merek Mitsubishi. Meskipun situasinya mungkin terlihat serupa dengan pemrograman umum seperti Python, dengan banyaknya penerjemah program saat ini, pemindahan program dari satu bahasa ke bahasa lain menjadi lebih mudah. Sehingga, fleksibilitas dalam pemrograman tidak lagi menjadi isu serius saat ini. Namun, dalam konteks PLC, transfer dari satu gaya bahasa ke gaya bahasa lain untuk merek manufaktur yang sama masih menjadi kendala. Tidak banyak manufaktur yang menyediakan kemampuan transformasi dari Ladder Diagram (LD) ke Function Block Diagram (FBD), misalnya, atau dari LD ke Structured-Text (ST).

