Inovasi dalam Pengelolaan Limbah Plastik

Polusi plastik adalah momok di seluruh dunia. Sejumlah pihak ingin menetapkan aturan pelarangan plastik yang tegas dan tegas. Namun, beberapa pihak lain ingin dunia tidak menafikan pentingnya plastik dalam fungsi kehidupan manusia sehari-hari, mulai dari tingkat individu hingga industri skala besar. Sambil menunggu kebijakan global, sejumlah negara dan kota mengambil inisiatif untuk mengelola inovasi dalam sampahnya secara optimal dan optimal. Tarik ulur pengambilan kebijakan terkait plastik global terlihat pada pertemuan Inter Governmental Negotiating Commission on Plastics (INCP) di Paris, Perancis, pada 29 Mei 2023. Pertemuan INCP ini diselenggarakan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO ) dan melibatkan 2.000 perwakilan negara anggota PBB dan organisasi non-pemerintah. Perdebatan terjadi di dua kubu. Yang pertama terdiri dari Norwegia dan Rwanda. Mereka ingin menghentikan produksi jenis plastik tertentu, misalnya plastik kemasan sekali pakai. Namun hal ini ditentang oleh kubu kedua yang terdiri dari negara-negara penghasil minyak dan industri seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Arab Saudi. Kubu ini mengusulkan agar yang dibatasi bukanlah jenis plastiknya, melainkan bahan kimia yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan yang harus dilarang. Selain itu, bukan menurunkan produksi, melainkan meningkatkan standar produksi dan mengutamakan daur ulang plastik sehingga dapat terjadi ekonomi sirkular. Target dari kamp ini tetap sama dengan INCP yaitu dunia bebas polusi plastik pada tahun 2040.
“Setiap negara mempunyai permasalahan plastik yang berbeda-beda. “Jangan menyalahkan seluruh negara karena akan berdampak pada perekonomian,” kata Joshua Baca, Wakil Direktur Plastik di Dewan Kimia AS. Berdasarkan data PBB, dunia menghasilkan 430 juta ton plastik setiap tahunnya dan dua pertiganya merupakan plastik sekali pakai yang berakhir menjadi sampah. Diperkirakan pada tahun 2060, produksi plastik akan meningkat tiga kali lipat dan hanya seperlima yang akan didaur ulang. Polemik daur ulang Daur ulang juga merupakan masalah. Alan Marty, Kepala Riset Carbios—perusahaan daur ulang plastik asal Perancis—menjelaskan, mayoritas plastik daur ulang mengalami penurunan kualitas, misalnya dari botol minuman hingga ceret plastik. “Pada akhirnya plastik daur ulang ini menjadi sampah dan bukan solusi masalah,” ujarnya kepada majalah Undark. Ia mengatakan masa depan plastik tidak bisa hanya bergantung pada daur ulang. Harus ada inovasi dalam terobosan lain yakni menguraikan plastik menggunakan enzim. Carbios mengembangkan enzim yang mampu memecah plastik polietilen tereftalat (PET). Ini adalah plastik yang biasa digunakan untuk kemasan botol minuman. Enzim ini memecah PET menjadi asam tereftalat dan monoetilen glikol. Jurnal Frontier of Microbiology edisi Mei 2023 menerbitkan makalah penelitian oleh tim dari Institut Federal Swiss untuk Studi Kehutanan, Salju, dan Lansekap bekerja sama dengan Institut Teknologi Federal Swiss. Mereka menemukan mikroba yang dapat menguraikan plastik. Mikroba ini dapat hidup pada suhu dingin sehingga tidak memerlukan ruangan khusus untuk menghangatkannya. Selain itu, tidak semua perusahaan daur ulang jujur. Fakta ini terungkap dari liputan investigasi ABC News yang diterbitkan 24 Mei 2023.
Awal tahun ini, mereka memasang 46 alat pelacak di antara bungkusan kantong plastik yang dibuang di tempat sampah daur ulang di seluruh AS. Selama beberapa bulan berikutnya, ABC News memantau sinyal yang dipancarkan oleh pelacak aktif ketika perangkat elektronik dengan frekuensi serupa berada di dekatnya. Ternyata, hanya empat dari pelacak tersebut yang benar-benar berakhir di perusahaan daur ulang. Sisanya berakhir di tempat pembuangan sampah dan terkubur. Bahkan, satu alat pelacak berakhir di Indonesia dan satu lagi di Malaysia. “Banyak perusahaan daur ulang yang licik dan tidak mau ambil pusing. “Mereka menjual limbah ini ke luar negeri, terutama ke negara-negara berkembang dan menyebabkan lebih banyak polusi plastik,” kata Judith Enck, Direktur Beyond Plastic, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang isu lingkungan. Ada pula persoalan jenis plastik yang bisa didaur ulang, yaitu yang bernomor 1 dan 2. Plastik yang bernomor 3 hingga 7 mayoritas hanya bisa didaur ulang dengan menggunakan teknologi khusus. Padahal, ini adalah plastik yang banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja tutup botol, minyak tanah, galon air, pipa paralon, botol obat, klip pembungkus roti, styrofoam, dan kotak makanan. Di Eropa, sebagian inovasi dalam besar plastik ini berakhir di insinerator. Teknologi insinerator ini lebih canggih karena menggunakan metode penangkapan karbon. Energi yang dihasilkan limbah juga digunakan untuk pemanas rumah dan bus listrik. Swiss adalah negara yang 100 persen bebas sampah. Mereka berhenti mengubur sampah di tempat pembuangan sampah pada tahun 2000. Sebaliknya, 53 persen sampah di Swiss didaur ulang atau dibuat kompos dan 47 persen sisanya dibakar di insinerator. Swedia dan Denmark merupakan negara yang 99 persennya juga telah menerapkan sistem zero waste. Sama seperti Swiss, 52-53 persen sampahnya berakhir di insinerator. Di Polandia, pemerintah mengambil langkah berbeda dibandingkan menggunakan insinerator. Mereka memilih untuk mengurangi produksi sampah. Penjual makanan wajib menyumbangkan makanan yang tidak dapat dijual ke berbagai organisasi kemanusiaan.
Untuk kota-kota di negara-negara besar, akses terhadap insinerator canggih belum tentu tersedia. Negara bagian Arizona di AS misalnya, belum memiliki teknologi untuk mendaur ulang plastik nomor 3 hingga 7. Alhasil, salah satu kota yakni Tucson pun memutar otak. Mereka berkolaborasi dengan perusahaan ByFusion yang tidak membutuhkan teknologi terlalu canggih untuk mendaur ulang plastiknya. Dilansir surat kabar Arizona Republic, ByFusion menggunakan teknologi kompresor dan uap untuk mengompres sampah plastik dan mencetaknya menjadi batu bata. Kemudian, batu bata tersebut digunakan untuk membangun sarana dan prasarana umum oleh pemerintah daerah. Salah satunya adalah pembangunan pagar di Universitas Arizona dan gedung baru untuk pelayanan sosial. Sejak inisiatif ini diluncurkan pada Agustus 2022, kota Tucson telah mendaur ulang 90 juta ton sampah plastik nomor 3 hingga 7 menjadi batu bata. Pemerintah mengucurkan 3,4 juta dolar AS untuk kerja sama dengan ByFusion. Langkah ini kemudian mulai ditiru oleh kota tetangganya, Phoenix dan kota Boise di Negara Bagian Idaho. Sementara itu, kota wisata Breckenridge di Negara Bagian Colorado memilih langkah yang lebih radikal. Mereka telah mendeklarasikan inovasi dalam zero waste pada tahun 2030. Sampah yang ada didaur ulang menjadi tempat duduk, meja, dan bangku taman. Selain itu, sejak tahun lalu, kota berpenduduk 5.000 jiwa ini telah melarang penggunaan botol minum sekali pakai dan kantong plastik. “Sebagai kota wisata, hotel telah menjadi pusat percontohan. Sejak tamu memesan akomodasi, kami memperjelas bahwa mereka tidak boleh membawa wadah minuman sekali pakai,” Emily Kimmel, Manajer Hotel Grand Vacations, mengatakan kepada USA Today. Larangan tersebut merangsang pelaku usaha kuliner lokal karena wisatawan tidak boleh jajan keripik atau minuman dalam kemasan plastik. Kafe menawarkan diskon jika wisatawan datang membawa botol minum sendiri. (AP)

