Cara Menanggulangi Kesulitan Belajar Siswa

Kesulitan belajar merujuk pada situasi di mana seorang anak mengalami kendala dalam memahami materi pembelajaran. Secara mendasar, perbedaan kemampuan antar anak, baik secara intelektual, fisik, maupun dalam konteks kondisi keluarga, menjadi faktor utama. Sebagian besar cara menanggulangi kesulitan belajar biasanya dialami oleh siswa dengan kategori di luar standar rata-rata, baik itu memiliki kemampuan di tingkat rendah maupun tinggi. Meskipun demikian, kesulitan belajar juga dapat memengaruhi siswa dengan kemampuan rata-rata, tergantung pada faktor-faktor tertentu yang menghambat pencapaian kinerja akademis sesuai harapan. Berbagai faktor dapat menjadi pemicu kesulitan belajar, termasuk faktor internal siswa yang melibatkan aspek kognitif seperti kapasitas intelektual yang rendah atau aspek afektif seperti ketidakstabilan emosi, sikap, dan psikomotor seperti gangguan fungsi indera (pendengaran atau penglihatan). Di sisi lain, faktor eksternal siswa mencakup kondisi lingkungan sekitarnya, termasuk lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah.
Ada juga faktor khusus cara menanggulangi, seperti sindrom psikologis seperti learning disability yang mencakup disleksia (kesulitan membaca), disgrafia (kesulitan menulis), dan diskalkulia (kesulitan berhitung). Kesulitan belajar yang disebabkan oleh sindrom-sindrom ini mungkin disebabkan oleh minimal brain function, yaitu gangguan ringan pada otak. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kesulitan belajar siswa melalui langkah-langkah berikut:
- Melakukan diagnosis kesulitan belajar, yang melibatkan guru dan siswa. Tujuan dari diagnosis ini berbeda antara guru dan siswa.
a. Tujuan untuk siswa:
- Memahami dan mengetahui kesulitannya.
- Memperbaiki kesulitannya.
- Memilih cara atau metode untuk memperbaiki kesulitannya.
- Menguasai materi pelajaran dengan baik.
- Meningkatkan prestasi belajarnya.
b. Guru
Tujuan dari pelaksanaan diagnosis kesulitan belajar bagi guru mencakup:
- Mengetahui kelemahan dalam proses belajar-mengajar.
- Memperbaiki kelemahan tersebut.
- Memberikan layanan optimal kepada siswa sesuai dengan kondisinya.
- Menyediakan layanan yang sesuai dengan perkembangan siswa.
Ada beberapa langkah diagnostik yang dapat diambil oleh guru, salah satunya adalah prosedur Weener & Senf (1982) yang diutip oleh Wardani (1991), meliputi:
- Melakukan observasi kelas untuk memperhatikan perilaku siswa yang mungkin menunjukkan kesulitan belajar selama pembelajaran.
- Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa, terutama yang dicurigai mengalami kesulitan belajar.
- Wawancara dengan orangtua atau wali siswa untuk mendapatkan informasi tentang keluarga yang mungkin berkontribusi pada kesulitan belajar.
- Memberikan tes diagnostik dalam bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui sifat kesulitan belajar.
- Berkolaborasi dengan klinik psikologi untuk melakukan tes kemampuan intelektual (IQ) pada anak yang mengalami kesulitan belajar.
- Analisis, Identifikasi, dan Penyusunan Program
Setelah menyelesaikan proses diagnosa, langkah-langkah penting yang harus diambil termasuk:
- Menganalisis hasil diagnosa untuk memahami bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian guna mendapatkan pemahaman yang akurat tentang kesulitan belajar siswa.
- Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan.
- Menyusun program perbaikan, terutama program pengajaran perbaikan (remedial teaching).

