Ancaman Bunuh Diri dan Stigma yang Tetap Menyelimuti Kita

Mungkin kita masih mengingat insiden seorang mahasiswa pascasarjana berusia 25 tahun di Bandung yang ditemukan meninggal akibat gantung diri pada awal September (CNN Indonesia, 2019). Di kamarnya ditemukan sebuah surat keterangan dari seorang dokter spesialis kejiwaan yang menyatakan bahwa ancaman korban menderita depresi. Sebelumnya, terdapat pula kasus seorang mahasiswa semester 13 yang mengakhiri hidupnya dan diduga dipicu oleh tekanan dari tugas akhirnya (Halo Dokter, 2019). Yang lebih baru, pada tanggal 7 Oktober, seorang siswa SD berusia 12 tahun di Temanggung ditemukan meninggal akibat gantung diri. Melihat serangkaian kasus seperti ini, kita perlu memahami dan mengantisipasi perubahan emosi dan perilaku yang dapat meningkatkan risiko tindakan bunuh diri. Organisasi Kesehatan Mental Sedunia (World Federation of Mental Health – WFMH) menetapkan “Pencegahan Bunuh Diri” sebagai tema Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2019. Pencegahan bunuh diri menjadi sangat penting di Indonesia karena masalah kesehatan mental telah menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun.
Menurut Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi gangguan mental emosional telah meningkat dibandingkan dengan tahun 2013. Pada tahun 2018, prevalensi kasus gangguan mental emosional di Jawa Tengah untuk penduduk usia di atas 15 tahun mencapai delapan persen, naik sekitar 3,3 persen dari angka pada tahun 2013. Namun, selain meningkatnya kasus gangguan mental, stigma negatif terhadap individu yang mengalami gangguan jiwa masih merupakan masalah yang perlu diatasi. Dalam lingkungan perkuliahan, penulis sering menekankan kepada mahasiswa untuk melihat masalah kejiwaan sebagai situasi yang dapat dialami oleh siapa pun dan bukan untuk diejek atau diolok-olok. Penulis juga mendorong siswa untuk berbagi pengalaman mereka ketika menghadapi masalah emosional. Data menunjukkan bahwa ancaman lebih dari setengah siswa pernah mengalami gejala depresi seperti kehilangan minat, perasaan bersalah yang berlebihan, pesimisme, masalah tidur, dan bahkan percobaan melukai diri sendiri. Kebanyakan siswa merasa malu dengan masalah emosional mereka dan takut dianggap aneh oleh orang lain. Bahkan dalam dunia psikologi, stigma ini masih sangat kuat. Masalah kesehatan mental dan risiko bunuh diri adalah masalah serius yang harus diperhatikan. Penelitian yang dipublikasikan dalam The American Journal of Psychiatry menunjukkan bahwa sekitar 90 persen remaja yang melakukan bunuh diri mengalami gangguan psikologis (Wilkinson, Kelvin, Roberts, Dubicka, & Goodyer, 2011). Gangguan psikologis yang paling umum terkait dengan bunuh diri adalah depresi berat, yang terjadi pada sekitar 35 persen kasus bunuh diri (Wilkinson et al., 2011). Depresi seringkali menjadi faktor risiko karena individu yang mengalaminya sering merasa putus asa, kehilangan motivasi, dan merasa bahwa tidak ada yang peduli (Lumongga, 2016).
Risiko bunuh diri bukan masalah yang bisa diabaikan. Menurut data dari WHO, setidaknya ada 800.000 orang yang meninggal akibat bunuh diri setiap tahun di seluruh dunia, yang berarti ada satu kematian akibat bunuh diri setiap 40 detik (WHO, 2016). Data International for Health Metrics and Evaluation menunjukkan bahwa angka kematian akibat bunuh diri di Indonesia pada periode 2015-2017 mencapai 8,09 per 100.000 penduduk (IHME, 2019). Informasi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2015 menunjukkan bahwa Jawa Tengah merupakan provinsi dengan kasus bunuh diri tertinggi di Indonesia, dengan 331 kasus (BPS, 2016). Angka-angka tersebut harus menjadi peringatan bagi semua pihak untuk merancang kegiatan dan program yang dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang deteksi dini gangguan jiwa dan risiko ancaman bunuh diri. Dalam beberapa kasus depresi yang penulis tangani, klien yang merasa ingin bunuh diri seringkali memiliki pandangan negatif tentang masa depan mereka. Mereka mencoba melukai diri mereka sendiri dengan berbagai cara, dan beberapa di antaranya berhasil melukai diri mereka sendiri. Ada beberapa kesamaan menarik dalam kasus-kasus di mana upaya melukai diri sendiri tidak berhasil.

