Penggunaan Bahasa di Era Milenial

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi nasional yang merupakan sebuah jati diri suatu bangsa. Bahasa adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan adanya bahasa kita dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Bahasa harus memiliki makna yang jelas agar tidak terjadi kesalahan dalam berkomunikasi. Di Era milenial ini, pengaruh globalisasi dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat, terutama di kalangan remaja. Mulai dari gaya hidup yang baru, cara berpakaian, sampai bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi pun banyak yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa.
Bahasa, menjadi media komunikasi utama dalam kehidupan manusia untuk saling berinteraksi. Jati diri bangsa dapat dilihat dari bahasa. Bahasa itu ibarat rumah di mana rumah itu sebagai pemersatu antara satu orang dengan yang lain. Entah itu latar belakang dari budaya kita, dari mana suku kita, dan dari mana kita berasal. Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa nomor satu yang digunakan dalam berkomunikasi. Tanpa adanya bahasa, kita akan tersingkirkan dalam kehidupan bermasyarakat. Generasi milenial adalah masa adanya sebuah peningkatan penggunaan teknologi digital seperti sekarang ini. Generasi yang hidup di era ini memiliki ciri khas, mengapa demikian? Karena sejak di bangku sekolah, mereka sudah menggunakan gawai dan menjadikan internet sebagai kebutuhan untuk bersosialisasi di media sosial.
Dan mengapa hal itu bisa terjadi? Keinginan untuk mempersiapkan diri memasuki era globalisasi tentu saja boleh. Namun, jika hal itu dapat mengorbankan jati diri bangsa kita apalah gunanya?Di era milenial ini, banyak remaja yang menggunakan bahasa gaul. Bahasa gaul jika digunakan dalam situasi non-formal akan mudah dipahami. Namun sangat tidak tepat jika penggunaan bahasa gaul ini dgunakan dalam situasi yang formal, seperti halnya saat mengajar maupun saat melakukan wawancara. Mereka kerap menciptakan bahasa gaul yang mereka gunakan untuk berkomunikasi sehari-hari, mereka pun mencampur adukkan Bahasa Indonesia dengan bahasa asing, kemudian muncullah kosakata baru seperti “Negara berkembang” menjadi “Negara berflower” dan lain sebagainya. Mereka merasa lebih modern jika berkomunikasi menggunakan bahasa gaul. Padahal kata-kata tersebut tidak sesuai dengan kaidah Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Adanya penyimpangan ini dapat menghambat perkembangan Bahasa Indonesia hilang dan lunturnya penggunaan Bahasa Indonesia dikarenakan kurangnya kesadaran dalam diri untuk mencintai dan menggunakan Bahasa Indonesia di negeri sendiri. Jadi seharusnya kita sebagai generasi milenial patut bangga berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah, agar jati diri bangsa tidak mudah luntur dabn semakin menghilang.

