Nasionalisme Bangsa Indonesia

Sukarno dalam naskah pledoinya pada sidang Pengadilan Rakyat di Bandung -kemudian peristiwa itu dinamakan “Indonesia Menggugat” pada 1930an-, berkali-kali menyatakan bahwa pembelaannya dipersidangan tersebut sama sekali tidak mempertentangkan soal urusan subjek atau orang per orang ketika terjadi praktek kolonialisme di Indonesia. Nasionalisme gugatan Sukarno sesungguhnya lebih mengarah kepada ihwal munculnya ideologi pemicu kolonialisasi dan imperialisme yaitu kapitalisme yang merebak di belahan dunia Barat hingga menjalar ke kawasan Timur seperti Indonesia.
Sukarno dalam naskah pledoinya pada sidang Pengadilan Rakyat di Bandung -kemudian peristiwa itu dinamakan “Indonesia Menggugat” pada 1930an-, berkali-kali menyatakan bahwa pembelaannya dipersidangan tersebut sama sekali tidak mempertentangkan soal urusan subjek atau orang per orang ketika terjadi praktek kolonialisme di Indonesia. Gugatan Sukarno sesungguhnya lebih mengarah kepada ihwal munculnya ideologi pemicu kolonialisasi dan imperialisme yaitu kapitalisme yang merebak di belahan dunia Barat hingga menjalar ke kawasan Timur seperti Indonesia.
Budaya gotong royong hidup jauh sebelum ideologi-ideologi Barat berkembang. Kapitalisme lahir dari dasar pemikiran filsafat materialisme pada abad pertengahan, sementara nilai gotong royong hidup dari akar nasionalisme kultural bangsa Indonesia sejak awal kehidupan manusia nusantara. Artinya, kolonialisme itu picik, karena dengan kebaruannya, berusaha merampas kedaulatan bangsa lain melalui berbagai cara serta jalan eksploitasi material yang dimiliki suatu bangsa.
Berkembangnya pemikiran Sukarno dalam melihat persoalan bangsa pada masa itu, kemudian bersinggungan dengan berkembangnya pemikiran Marxisme. Marxisme menjadi salah satu ideologi yang menarik minat Sukarno untuk mempelajarinya. Mempelajari Marxisme, lebih sebagai suatu upaya mencari cara tepat melakukan analisa ilmiah dan antitesa terhadap kemunculan berbagai peristiwa penjajahan di tanah air. Kritik terhadap kapitalisme terus dilancarkan Sukarno sembari tetap menyisipkan nilai-nilai pemikiran dari kehidupan kultur Nusantara ketika penjajahan semakin merajalela.
Sampai tiba saatnya, Sukarno menjatuhkan pilihan kepada ideologi Marhaenisme sebagai originalitas gagasan dan ideologi bangsa. Marhaenisme merangkum sejarah panjang manusia Indonesia sejak awal kehidupannya.
Akar Marhaenisme
Sejak kapan awal kehidupan manusia Indonesia itu dan mengapa gagasan pemikiran Sukarno menguat kepada cara pandang Marhaenisme yang nota bene adalah petani?
Padahal sebelumnya Sukarno pernah mendapat inspirasi tentang kondisi kemiskinan struktural berangkat dari fenomena kehidupan seorang kusir delman di tanah Jawa. Gagasan perlawanan dari dasar persoalan kemiskinan struktural rakyat Indonesia, dilihat dari sudut pandang fenomena kehidupan sang kusir, tidak lantas menyeruak. Namun berbeda ketika gagasan Marhaenisme diutarakan setelah Sukarno berdialog langsung serta menggali akar masalah kehidpan petani di tanah Parahyangan.

