Manajemen Sumber Daya Manusia Berbasis Kompetensi

Ketika kita berbicara tentang manusia dalam organisasi, di benak kita adalah pegawai yang memiliki kontribusi dalam organisasi. Sumber daya manusia (SDM) adalah bagian elemen penting yang tidak terpisahkan dan harus dikembangkan salah satunya melalui manajemen SDM. Wibowo (2022) mengatakan manajemen SDM adalah aspek yang mencakup keseluruhan tentang orang yang dikelola dalam organisasi. Dalam manajemen SDM salah satu hal penting ialah meningkatkan kompetensi melalui manajemen SDM berbasis kompetensi yang disarakan penting untuk:
1) Eksekutif, kompetensi yang diperlukan untu eksekutif adalah:
Strategic thinking,merupakan kemampuan memahami perubahan lingkungan dengan cepat, melihat peluang pasar, mendeteksi ancaman dan kelemahan serta mengidentifikasi respon strategis;
Change leadership, merupakan kemampuan komunikasi visi strategis yang membuat respon adaptif;
Relationship management, merupakan kemampuan membangun hubungan baik dengan pihak internal atau eksternel.
2) Manajer, kompetensi yang diperlukan yakni:
Flexbility, adalah kemampuan mengubah struktur dan proses manajerial dalam menjalankan strategi perubahan organisasi;
Change implementation, adalah kemampuan mengkomunikasikan keperluan organisasi perubahan kepawa bawahan dan keterampilan manajemen;
Entrepreneurial innovation., adalah kemampuan mempelopori produk dan memberikan proses produksi;
Empowering, adalah kemampuan memberdayakan perilaku manajerial dan berbagi informasi, mengumpulan gagasan bawahan, mendelegasikan wewenang, memberikan umpan balik, dan menyatakan harapan positif;
Team facilitation, adalah keterampilan proses untuk memperoleh kelompok yang berbeda dalam mencapai tujuan;
Portability, adalah kemampuan menyesuaikan lingkungan dengan cepat dan efektif.
3) Pekerja, kompetensi yang dibutuhkan yakni:
Flexibilityadalah melihat perubahan sebagai peluang daripada tantangan;
Information seeking motivation and ability to learn, kemampuan belajar seperti mempelajari teknologi baru dan antusias dalam mencari peluang;
Achievement motivation, yakni dorongan untuk inovasi dan perbaikan terus-menerus seperti kaizen;
Work motivation under pressure, yakni kemampuan bertahan dalam tekanan dan selalu meningkatkan kinerja;
Collaborativeness, yaitu kesediaan bekerja sama secara kooperatif dan multidisiplin;
Customer service orientation, yaitu pemahaman antarpribadi dan mendengarkan.
Selanjutnya, Spencer dalam Wibowo (2022) menjelaskan terdapat beberapa kompetensi yang dikategorikan ke dalam 6 kelompok yakni:
Achievement and action, adalah kelompok yang berorientasi prestasi, kualitas, dan pencarian informasi;
Helping human service, adalah kelompok yang terdiri dari pemahaman interpersonal dan pelayanan;
Impact and influence, adalah kelompok dari pengaruh dan dampak serta membangun hubungan;
Managerial, adalah kelompok pengembangan orang lain dan pengarahan ketegasan tim;
Cognitive, merupakan kelompok pemikiran konseptual dan akli teknis;
Personal effectiveness, adalah kelompok pengendalian diri, fleksibel, dan komitmen pada organisasi.
Terdapat faktor dalam mempengaruhi kompetensi yakni:
Keyakinan dan nilai. Keyakinan orang akan dirinya akan mempengaruhi perilaku orang tersebut. Jika orang percaya bahwa mereka tidak kreatif, mereka takkan berusaha untuk mencari cara baru. Mayoritas pekerja menilai manajemen umumnya tidak mendorong dalam perbaikan melainkan hanya dalam kondisi yang aman, oleh sebab itu hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam menyikapi keyakinan dan nilai pekerja.
Keterampilan. Keterampilan bisa ditingkatkan melalui pelatihan terus-menerus.
Pengalaman. Keahlian dalam konteks organisasi memerlukan pengalaman. Dengan sering dilatih dan memiliki pengalaman, orang akan bisa meningkatkan kompetensinya.
Karakteristik kepribadian. Kepribadian mempengaruhi keahlian manajer dan pekerja dalam beberapa kompetensi termasuk dalam menyelesaikan konflik, menunjukkan kepedulian, dan bekerja sama tim, memberikan pengaruh, dan membangun hubungan.
Motivasi. Adalah faktor dalam kompetensi yang bersifat dinamis, oleh sebab itu hal ini harus diperhatikan oleh manajemen dalah meningkatkan kompetensi pegawai.
Isu emosional. Hambatan emosi bisa membatasi penguasaan kompetensi, oleh sebab itu diperlukan seseorang yang mampu mengendalikan emosi dan menjadikan emosinya sebagai peluang dalam meningkaykan kompetensi.
Kemampuan intelektual. Kompetensi tergantung dari pemikiran kognitif melalui intervensi yang diwujudkan dalam organisasi.
Budaya organisasi. Budaya organisasi bisa mempengaruhi melalui praktek rekrutmen, sistem penghargaan, praktek pengambilan keputusan, folosofi organisasi, kebiasaan, komitmen, dan proses organisasi.

