Pentingnya Kualitas Pendidikan

Pentingnya kualitas Pendidikan
Menurut Global Partnership for Education, pendidikan dianggap sebagai hak asasi manusia dan memainkan peran penting dalam pembangunan manusia, sosial, dan ekonomi. Pendidikan mempromosikan kesetaraan gender, memupuk perdamaian, dan meningkatkan peluang seseorang untuk memiliki kehidupan dan peluang karier yang lebih banyak dan lebih baik. Kualitas pendidikan di Indonesia sendiri selalu mengalami pasang surut walaupun tidak secara signifikan. Ini bermula dari penilaian banyak orang terhadap out put hasil pendidikan di Indonesia yang belum sesuai dengan tujuan pendidikan di Indonesia.
Berdasarkan data yang dikeluarkan UNESCO pada tahun 2021 lalu Indonesia masih berada di peringkat ke-54 dari total 78 negara yang masuk dalam pemeringkatan tingkat pendidikan dunia, mengacu kepada tiga atribut sama di antaranya: sistem pendidikan publik yang berkembang dengan baik, akan mempertimbangkan untuk kuliah di sana, dan menyediakan pendidikan berkualitas tinggi. Sementara berdasar pada Deutsche Welle, Indonesia berada pada posisi ke-5 dari 10 negara di ASEAN berdasarkan tingkat kualitas pendidikan, yang secara umum berada di bawah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand. Sedangkan, berkiblat pada Human Development Index (HDI) yang juga dikeluarkan UNESCO, Indonesia berada di urutan ke-114 dari 195 negara.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa problematikkah pendidikan di Indonesia saat ini di antaranya adalah rendahnya layanan pendidikan, rendahnya mutu pendidikan, rendahnya kemampuan literasi anak dan perkembangan sarana dan prasarana yang tidak merata dan lain sebagainya. Meski demikian, beberapa faktor yang memengaruhi penurunan kualitas pendidikan berasal dari peserta didik atau siswa berserta guru (tenaga pendidik).
Melihat dari sudut pandang secara keseluruhan dan juga pengalaman pribadi, siswa lebih menyukai hari libur, pergi liburan, dan mengerjakan sesuatu yang menyenangkan serta mengasah kreativitas atau bahkan mengikuti kegiatan yang memacu adrenalin dan berbau petualangan. Akan tetapi, menurut Robb banyak siswa mengatakan mereka benci pergi ke sekolah dan itu bukan masalah pendidikan di Indonesia, namun juga masalah secara global. Pernyataann tersebut dipengaruhi banyak fakfor termasuk lingkungan, pergaulan, akadsmis, dan yang paling umum adalah sebagian besar mata pelajaran yang dipelajari siswa tidak menarik minat mereka, dan dalam hal ini melibatkan para guru dalam cara mereka menyampaikan materi pembelajaran.
Meski begitu, jika siswa diberikan kesempatan untuk mengubah cara pandang terhadap sekolah, mereka akan menyukai mata pelajaran tersebut, membahasa topik yang relevan dengan kejadian yang sedang terjadi atau hal-hal yabg berkaitan dengan kesukaan siswa, bagian terpenting dari seluruh aspek adalah melakukan komunikasi dua arah dan bukan satu arah, siswa sering kali diminta berbicara diberbicara di depan kelas, melakukan presentasi oleh guru, namun ada baiknya jika hal tersebut dikembangkan menjadi sebuah forum berbicara dengan melibatkan guru itu sendiri, sebagai contoh seperti berdiskusi mengenai topik presentasi bersama dan berbagi pengalaman yang berhubungan dengan tema yang sedang dibahas saat itu. Diketahui ketika dialog dua arah tercipta antara siswa dan guru serta minat siswa terhadap kegiatan tersebut mulai muncul, siswa akan merasa bahwa mata pelajaran itu sangat menarik dan itu akan mengubah segala cara pandang dan berpikir siswa, sebab pada dasarnya siswa sangat suka menemukan hal-hal baru, mereka menyukai petualangan, dan mereka menyukai humor dan kesenangan.
Namun kembali pada permasalahan yang jika dilihat dari sisi dunia pendidikan, guru menyampaikan materi di dalam kelas berorientasi pada kurikulum yang dibuat dan ditentukan, mendidik serta menyampaikan materu dari buku teks yang ditugaskan, mengikuti pedoman pembelajaran khusus dengan sarana dan prasarana terbatas meski dengan metode berbeda dan terus diubah serta dimodifikasi. Ini dipengaruhi pula oleh kurikulum yang berubah-ubah selama beberapa tahun terakhir sebab menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Sejatinya, hal tersebut banyak memberikan dampak pada bagaimana guru harus bertindak sementara terdapat tuntutan untuk mempelajari teknologi baru pada waktu yang sama.
Sebagai solusi alternatif sebuah kegiatan seperti penyuluhan atau mengadakan forum khusus akan sangat berpengaruh dan dibutuhkan guru di Indonesia untuk mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan pendidikan sehingga secara terbuka guru dapat memberikan pendapat dan saran, dengan kata lain berpartisipasi aktif dalam perkembangan kemajuan pendidikan di negara ini. Demikian, permasalahan yang timbul bukan hanya dari segi pengajaran namun juga sisi ekonomi, melihat pada peraturan baru mengenai upah minimum guru honorer, beberapa dapat dikatakan tidak mendapatkan upah yang layak atas dedikasi dalam mendidik siswa, ini menjadi permasalahan besar sampai hari ini sebab belum ada upaya yang betul-betul berhasil dalam mengatasinya.

